PERJALANAN SEORANG
ANAK MENCAPAI CITA-CITA
Biaya pendidikan di kota ini sangat mahal, makin tahun makin mahal. Alhamdulillah aku dikampus ini mendapatkan beasiswa
penuh sampai selesai tanpa biaya apapun kecuali biaya hidup bayar sendiri. Dari
beasiswa ini aku merasakan kegembiraan dan kesedihan, bahagia karena bisa mengurangi
beban orang tua dan juga merasa sedih, karena belum bisa apa-apa. Aku kuliah tanpa
bekal apapun hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Aku sering bertanya pada diri saya sendiri.
“mengapa saya bisa diterima dikampus ini, padahal aku belum mempunyai
bekal apa pun?”.
Tapi dengan ini aku bisa mengambil pelajaran dari pengalaman yang
aku hadapi selama kuliah dan berada didaerah orang lain, bahwa eseorang bisa diterima
di Universitas tidak harus mempunyai bekal yang sangat tinggi, tetapi juga
butuh motivasi dan keinginan dari kita sendiri. Dan karena semua ini adalah kehendak dan rencana
Allah.
Suatu saat aku di ajak jalan-jalan sama aba, untuk melihat Universitas
di Bogor, yang tidak jauh dari kampus kakakku. Tiba aku dan aba di suatu kampus
yang bernama STEI Tazkia yang letaknya di Dramaga Bogor. Ketemulah ayah dengan salah
satu dosen dan merekan gobrol-ngobrol. Tanpaku duga dosen
itu berkata.
“Adek langsung masuk aja di kampus ini”, kata
salah satu dosen.
Beneran pak??? Kataku.
Ia benar dek” jawab dosen
Betapa bahagianya saya bisa diterima di kampus
Tazkia, tanpa bekal apa pun, karena saya hanya lulusan Sekolah Dasar (SD)
apalagi saya masuk d kampus tazkia tanpa tes, tidak seperti mahasiwa lainnya,
mereka harus tes dan ikut beberapa kegiatan, sedangkan aku tidak.
Pertama
aku masuk tazkia keesokannya langsung kuliah. Ketika aku sudah mengikuti
perkuliahan cobaan demi cobaan datang menghampriku, mulai dari pelajaran yang belum
bisa sampai makian dari teman-teman, tapi aku mencoba untuk sabar dan tabah
dalam menghadapi semua ini. Karena aku pingin membuktikan bahwa bukan semua
orang yang mempunyai bekal dan pandai yang berhasil, akan tetapi orang yang
tidak mempunyai bekal dan pas-pasan juga bisa berhasil.
Hari demi hari kulewati dengan penuh kesabaran
dan ketabahan. Di suatu saat aku mau mengerjakan tugas dari dosen, ketika itu aku
bertanya sama teman kamar aku bagaimanacaranya, betapa kagetnya aku, ketika temanku
berkata,
“ Masak Cuma seperti ini kamu tidak tahu,
padahal ini gampang, kamu itu mondok dimana sich kok tidak tahu apa-apa”. Kata
salah satu teman sekamarku.
Takterasa air mataku mengalir dengan sendirinya,
„Ya Allah berilah kesabaran dan ketabahan kepada hamba dalam mengahadapi
semua ini, berilah teman hamba tidak seperti apa yang hamba alami sekarang”. Inilah
kata-kata yang muncul ketika aku mendengar kata-kata dari teman sekamarku.
Tibalah pada pelajaran yang paling aku benci
dan yang belum aku bisa meski sebelum aku kulian aku sempat belajar sebentar.
Waktu itu pelajarannya Bahasa Inggris sama dosen kita disuruh kenalan pakek
bahasa inggris dan disuruh maju kedepan, ketika itu aku mulai takut dan tidak
percaya diri. Tibalah pada giliranku untuk memperkenalkan diriku, betapa
malunya aku ketika ditanya, tapi aku tidak faham apa yang ditanyakan dosen
kepadaku, sungguh bodohnya aku. Dari itu aku tidak percaya diri dan tidak PD.
Setiap hari sehabis pulang kuliah pasti
kerjaanku menangis, karena aku merasa tidak mampu dalam pelajaran dikampus, aku
terus menguluh dan mengadu kepada orang tua, mungkin orang tuaku bisa memberiku
semangat. Dan setiap aku dimaki-maki ataupun dikelas belum bisa, aku selalu sms
pada orang tua untuk berhenti dari kampus, karena aku merasa tidak mampu dalam
pelajarannya, tetapi ortuku tidak mengizinkan, karena sudah terlanjur masuk
tazkia. Karena aku mintak berhenti tidak di perbolehkan, dari itu aku hanya
bisa pasrah dan pasrah, karena aku percaya bahwa apa yang aku hadapi sekarang
adalah kehendak Allah dan Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya
melaikan Allah tahu bahwa hamba-Nya sanggup melewati cobaan tersebut. Meski
cobaan terus datang aku tetap bersyukur karena semester demi semester nilaiku
meningkat.
Tibalah pada semester tiga yang mana aku danteman-teman
se angkatan harus pindah ke Tazkia yang ada di Sentul. Dan baru kali ini aku merasakan
satu ruangan bersama ikhwan, meski tempat duduknya pisah, tapi aku merasa tidak
enak dan tidak bebasa palagi teman-teman kelasaku pintar-pintar. Ada salah satu
teman yang orangnya tidak mau dikalahkan sama orang lain, sampai-sampai diasering
memaki saya, tapi saya tidak pernah menjauh dari dia meski dia sering memakiku,
karena aku berpikir kalau tidak belajar dengan dia siapa lagi, soalnya hanya dia
yang satu kontrakan denganku, sedangkan teman-teman se kelasku yang lain
kontrakannya jauh. Sebut saja namanya Ami
Waktu itu aku pernah main di kamar ami, dan waktu itu juga aku membacabuku.
“ kamu tidak lulus ya, bahasa indonesianya? Baca
bahasa indonesia saja kayak gitu, pantes bahasa inggrisnya tidak lulus”. Kata
Ami
Betapa terkejutnya aku ketika dia bilang
seperti itu, tapi apa salahnya sich kita belajar untuk mengetahuinya. Masih
banyak makian dia kepadaku, tapi sama aku hanya di buat penyemangat. Aku heran,
ketika aku faham tentang pelajaran misalkan, Managemen Keuangan, ami seperti
tidak terima, pernah aku belajar bareng ama dia, pas aku bilangin caranya bukan
seperti itu, dia ngambek dan dia seperti marah. Ya begitulah kalau orang
pintar. Maka dari itu aku bisa mengambil hikmah, Allah memberiku seperti ini
atau pas-pasan agar aku itu tidak sombong dan aku harus saling mengerti satu
sama lain. Karena aku lihat kebanyakan orang pintar itu sombong.
Meski aku kuliah tanpa modal, aku akan
membuktikan kepada orang tua, keluarga dan teman-teman apalagi yang sering
menghinaku, bahwa aku bisa melebihi mereka dan aku bisa menjadi wisudawan yang
terbaik. Amin
***
Bulan Februari entah tanggal berapa aku
lupa….hehehe… merupakan hari yang telah aku nanti-nanti selama berminggu-minggu
aku tunggu, yaitu pengumuman ter ACCnya
judul skripsi yang aku ajukan dan Alhamdulillahnya judul aku di terima. Akan
tetapi pada hari itu aku sangat sedih, aku berfikir aku tidak bisa
menyelesaikan tugas akhirku, karna pada waktu itu aku sedang melaksanakan umroh
selama satu bulan bersama keluarga sehingga aku mengaggap jatah menulis skripsi
tertunda. Aku terus berfikir, aku tidak
boleh berlarut dalan kesedihan karna dengan bersedih aku tidak akan bisa
menyelesaikan masalah ini. Pada waktu aku melaksanakan umroh tawaf dan sa’I aku
menyempatkan diri untuk terus berdoa dan meminta pertolongan pada Allah agar
aku bisa menyelesaikan tugas akhir tempat pada waktu yang telah ditentukan. Dan
aku terus berdoa agar aku dapat pembimbing yang sabar, perhatian dan yang
selalu memberiku semangat.
Bulan Februari entah tanggal berapa aku juga lupa….hehehe…
pengumuman dosen pembimbing sudah ditentukan aku mendapat kabar dari teman
bahwa aku mendapat dosen pembimbing Bapak Syamsul Hadi. Aku tidak tahu mana
yang bapak Syamsul Hadi, karna sebelumnya aku belum pernah diajari oleh beliau.
Karena bertepatan aku masih di Mekkah aku mengrim pesan lewat email dengan
bapak syamsul yang merupakan nama panggilan dari Bapak Syamsul Hadi.
Sebenarnya aku tidak enak karena lewat email tapi apa boleh
buat, rasa malu dan rasa tidak enak aku buang karna jika aku terus menrus
mempunyai rasa itu tugas akhirku tidak akan selesai dan itu merupakan tugas
dosen pembimbing dan juga aku. Alhamdulillahnya pak syamsul begitu merespon
setiap email yang aku krim. Setiap email yang aku kirim pak syamsul selalu
membalasnya. “ Ya Allah terimakasih engkau telah memberiku dosen pembibing yang
begitu pengertian” Dalam benakku. Selama aku pulang dari umroh sekitar satu
minggu tugas akhir yang telah aku kerjakan aku kirim kepada pak syamsul untuk
dikoreksi. Selama dirumah aku tidak tenang karena aku dihantui oleh rasa takut,
takut tidak bisa menyelesaikan tugas akhir. Aku iri sama teman-teman, kerana di
status mereka dan sms selalu mengenai tugas akhir. Sehingga rasa takut selalu
menghantuiku. Akan tetapi rasa takut sedikit demi sedikit itu hilang dengan
dukungan dan semangat dari orang tua
Bulan Maret aku sudah balek ke Bogor untuk menyusun tugas akhir.
Dua hari setelah aku balek dari Madura ke Bogor tepatnya hari sabtu aku bertemu
dengan pak syamsul untuk konsultasi mengenai tugas akhir. Akan tetapi pada hari
itu aku bingung bagaimana cara konsultasi dan apa yang harus kukatakan, apalagi
aku belum pernah ketemu dengan pak syamsul dan aku dengar-dengar dari
teman-teman bahwa pak syamsul itu keras dan pelit nilai….he he he… Tapi……..
Ternyata apa yang di katakan teman-teman itu salah. Kok bisa ya??? Makanya
jangan percaya dengan kata-kata orang sebelum melihat kebenarannya…. Pasti
penasaran kan bagaimana sebenarnya pak syamsul itu…. Hehehe… ayooo Q-ta
lanjutkan ceritanya…..
Entah tanggal berapa aku lupa tapi aku ingatnya itu hari Sabtu…
hehehe… Aku konsultasi dengan pak syamsul yang merupakan hari pertamaku
konsultasi. Di hari pertamaku konsultasi aku hanya menjelaskan menganai judul
dan alur-alur mengenai tugas akhirku. Alhamdulillah di hari pertamaku ini
konsultasi berjalan dengan lancar. Pak syamsul memintaku untuk datang dan
konsultasi lagi pada hari sabtu minggu depan dengan membawa rujukan sesuai
dengan judulku.
Setiap hari sabtu pak syamsul memintaku untuk datang konsultasi
entah itu sudah selesai atau belum, agar apa yang telah aku kerjakan bisa
mengetahui perkembangannya. Oh..Ia.. ada kata-kata yang pak syamsul katakan
padaku yang terus aku ingat dan aku pegang kata-kata itu yaitu :
“ Saya berharap setiap perubahan yang antum tulis atau lakukan
mengenai tugas akhir ini antum harus konsultasikan, agar tahu perkembagannya
sampai mana”.
“ Jangan malas, kerjaannya mahasiswa tingkat akhir itu malas.
Saya juga pernah jadi mahasiswa”.
“ Allah itu melihat atas usaha antum. Insya Allah antum akan
dapatkan sesuai dengan usaha antum”.
“ Bersabar lebih utama bagi antum saat ini… Allah Maha Tahu atas
segala yang antum usahakan”.
“ Keep Calm and research on”
Tidak hanya itu masih banyak kata-kata pak syamsul yang selalu
mendorongku. Dengan kata-kata tersebut selalu mendorongku agar cepat
menyelesaikan tugas akhir ini, sehingga tidak hanya hari sabtu aku datang
menemui pak syamsul hampir tiga kali dalam satu minggu aku menemui beliau
setiap hari senin, selasa dan sabtu.
Hari demi hari. Minggu demi minggu aku lalui dengan semangat dan
senyuman. Capek, letih dan sebagainya hilang begitu saja ketika aku ingat
harapan orang tua dan melihat tugas akhirku belum 100% selesai. Setiap senin,
selasa dan sabtu aku selalu bertemu dengan pak syamsul untuk berkonsultasi
mengenai tugas akhir.
Teman-teman mulai mendaftarkan diri untuk Seminar Proposal
Skripsi, keinginan dan semangat semakin membara dalam diriku untuk menyusul
teman-teman. Bulan April entah pada tanggal berapa aku memberanikan diri
mendaftarkan Seminar Proposal Skripsi di samping itu juga aku mendapat dukungan
dan semangat dari pak syamsul.
Semangat dan motivasi selalu aku dengar dari pak syamsul yang
kata teman-teman menakutkan…hehehe.. padahal tidak. Pak syamsul orangnya baik,
sabar ganteng lagi… he he he. Beliau begitu sabar dan selalu mendengarkan kesah
keluhku selama aku bimbingan. Pernah suatu hari aku merasa minder dan malu pada
teman-teman, karena aku sering konsultasi akan tetapi tidak selesai-selesai.
Aku pun sms pada beliau yang isinya “ Pak maaf sebelumnya, bapak jangan merasa
bosan selalu ketemu dengan saya. Jujur pak saya malu dan minder kepada
teman-teman dan juga bapak, karena datang bolak-balek tidak selesai-selesai”
apa coba jawaban dari pak syamsul….? Pak syamsul hanya menjawab “ Apa yang
dikerjakan akan sesuai dengan hasil yang akan diterima, maka
bersungguh-sungguhlah. Insya Allah”.
Oh ia…. Ini merupakan momen yang tidak bisa aku lupakan, karena
dengan salah satu cara ini aku bisa menyelesaikan tugas akhir tepat waktu
bahkan diantara teman-teman seangkatanku akulah pertama menyerahkan Bindingan
skripsi (bukan sombong tapi merupakan pelajaran untuk diriku…he he he…) waktu
aku sudah satu bulan daftar Seminar Proposal Skripsi tetapi belum juga di
panggil, akhirnya pak syamsul menyuruhku untuk sambil penelitian agar cepat
selesai toh….. entah kapan di panggil bisa saja bulan depan.
Akhirnya aku pun memulai penelitian dan mengutak-atik data. Hari
demi hari aku lalui hanya di depan Net Book, sambil aku latihan untuk
persiapan seminar sampai aku bosan latihan. Hingga akhirnya aku memutuskan
mendaftakan diri untuk ujian Komprehensif dan ujian Tahfidz kebutulan ada teman
yang ngajak. Eh… ternyata... pas aku lihat di Grup yang di panggil duluan ujian
tahfidz dan komprehensif…kecewa deh aku…. Ya udah lah mungkin ini yang terbaik
untukku agar aku bisa fokus dengan penelitian nantik. Alhamdulillah ujian
tahfidz dan ujian komprehensif lulus meski persiapannya kurang dibanding
persiapan untuk seminar.
Entah tanggal berapa tapi seingat aku bulan april panggilan yang
aku tunggu-tunggu ternyata datang juga. Kalau tidak salah hari itu hari senin
aku seminar. Hari ini aku gembira dan senang sekali, akan tetapi pada waktu
sesi pertanyaan aku merasa terharu dan sedih mendengar kata-kata dari pak
syamsul. Aku hampir meneteskan air mata akan tetapi aku tahan takut akan mengganggu
persentasiku. Selama hampir empat tahun baru kali ini aku mendapat sanjungan
atau pujian yang membuatku semangat biasanya hanya makian. Pak syamsul berkata
“ Saya sangat apresiasi sama Aisyah karena semangatnya, hampir empat kali dalam
satu minggu dia bertemu saya. Semoga teman-temannya termotivasi dengan Aisyah”.
Mendengar kata-kata tersebut aku tidak mampu menahan air mata. Aku ingat
masa-masa dimana aku di ejek-ejek sama teman-teman karena keterbatasanku. Tapi
aku selalu berkeinginan akan membuktikan bahwa aku juga bisa melebihi mereka.
Aku tidak seperti yang mereka kira.
“ Kesuksesan tidak hanya dilihat dari kepintaran dan kecerdasan
Q-ta. Pintar dan cerdas tapi tidak mau
berbagi, tidak tahu menempatkan itu sama saja. Kesuksesan akan di raih jika
Q-ta bersungguh-sungguh. Bukan hasil yang dilihat oleh Allah, akan tetapi
usahalah yang akan dilihat. Keberhasilah akan sesuai dengan usaha yang Q-ta
lakukan”. Ini merupakan kata-kata yang selalu menjadi pendorongku.
Hingga akhirnya dengan semangat dan dorongan dari orang tua
terutama pak syamsul yang ku anggap orang tua selama ada di bogor, karena
beliau telah membantu, memberi semangat dan memotivasi selama aku menyelesaikan
tugas akhir, aku dapat menyelesaikan tugas akhirku tepat waktu dan sesuai harapanku
yaitu satu minggu sebelum lebaran ‘Idul Fitri aku bisa Sidang Skripsi.
***
Detik-detik akan Sidang Skripsi aku takut… takut tidak lulus dan
sebagainnya. Tapi mau tidak mau harus aku hadapi. Setiap aku persentasi aku
takut mengecewakan pak syamsul, tidak sesuai dengan harapan pak syamsul akan
tetapi aku harus hadapi, karena memang kelemahanku ketika persentasi gerogi.
Meski sudah latihan berapa kali di kosan sampai di depan dosen selalu gerogi.
Mungkin selama ini aku belum pernah bertatap muka dengan ikhwan. Aku akui beru
kali ini aku bertatap muka atau bertemu langsung dengan ikhwan yaitu dosen
pembimbing.
Kehidupan kampus terkadang menyenangkan, tetapi ada kalanya
membosankan. Setiap hari berpacu melawan waktu dan kemampuan diri untuk
memecahkan tugas-tugas, praktikum, belajar menjelang ujian, dan hal-hal lain.
Terlebih ketika di masa-masa akhir semester, banyak teman-teman yang mengeluh
karena ujian semakin dekat, di lain sisi banyak tugas-tugas akhir yang datang
di saat bersamaan. Tak jarang yang harus rela menjejakkan kaki-kaki mereka
seharian di kampus untuk berbagi dan bekerja bersama menyelesaikan semua itu.
Tak sedikit di antara mereka yang selalu semangat dan berjuang
menyelesaikan tugas-tugas itu. Tetapi tak jarang pula ada yang kurang aktif
dalam menanggapi semua itu. Entah karena mereka mudah menyerah, sudah tidak
bernafsu kuliah, atau karena hal-hal yang lain.
Aku sangat bersyukur dan
bersyukur mendapatkan dosen pembimbing seperti pak syamsul. Pak syamsul begitu
baik, sabar, disiplin dan tidak pernah bosan. Setiap aku mengeluh beliau selalu
memberi dukungan dan motivasi yang mebuatku selalu semangat. Hal yang tidak
pernah aku lupakan setiap aku di suruh mencari referensi beliau selalu
menyuruhku mencari kebenarannya terlebih dahulu entah itu buku aslinya atau
PDFnya. Bagaimana caranya aku membalas budi baik pak syamsul. Aku hanya bisa
berdoa agar beliau selalu diberi kesehatan dan selalu dalam lindungan dan ridho
Allah.
Selang beberapa tahun kemudian tibalah waktu
yang aku tunggu-tunggu, yaitu pengumuman kelulusan, betapa terkejutnya ketika
nama aku di sebut. Tidak terasa air mataku mengalir dengan sendirinya, inilah
hasil perjuanganku selama ini, ternyata sebuah perjuangan itu tidak akan
sia-sia. Allah tidak akan melihat hasil kita, tetapi Allah melihat seberapa
besar perjuangan kita itulah hasil kita. Tidak hanya itu kebahagian datang
ketika aku wisuda ternyata apa yang aku inginkan tercapai, yaitu menjadi wisuda
terbaik. Akhirnya aku bisa membuktikan kepada orang tua, keluarga dan teman-teman
bahwa aku bisa melebihi mereka, dan aku bisa menyatakan meski kita mempunyai
bekal sedikit kita pasti bisa.
***
Aku sangat bersyukur dan
bersyukur dilahirkan dari orang tua yang selalu sabar mendidikku. Dibalek semua keberhasilan yang aku raih selama
empat tahun aku berada di kota orang lain, ada orang yang membuat aku bisa
menyelesaikan kuliyah ini yaitu tidak luput adalah orang tuaku sendiri yang
begitu sabar mendengarkan keluh kesahku. Aku tidak tahu bagaimana caranya
membalas jasa beliau. Selama empat tahun aku hanya bisa menyusahkan beliau,
entah apakah selama empat tahun ini aku bisa membahagiakan beliau. Beliau rela
bangun malam untuk selalu mendoakanku.
Setiap aku mengeluh, setiap aku tidak mampu
dengan pelajaran yang aku hadapi, setiap putus asa datang, beliau selalu
memberi kesempatan untuk memberi nasehat dan motivasi. Setiap uang bulananku
habis kadang kala aku marah, tapi beliau tidak pernah marah padaku. Sungguh aku
sangat berdosa dan sangat berjasa pada beliau. Ketika aku mengingat semua apa
yang aku lakukan selama emapt tahun ini terhadap orang tuaku, ingin rasanya aku
mengulang kembali. Tapi bagaimana caranya semua tidak bisa diputar kembali,
hanya dengan semua kejadian ini aku bisa mengambil pelajaran agar tidak bisa
terulang kembali.
Kadang kala aku berfikir apakah ilmuku nanti
bermanfaat, sedangkan dosa yang aku perbuat terhadap ummi dan aba banyak? Aku
beharap ummi dan aba memaafkan kesalahanku. Apa yang aku lakukan nanti ketika
aku selesai wisuda. Aku bingung dan ragu. Apakah aku bisa membantu ummi dan
aba? Sungguh bodoh anakmu ini.
Ummi dan Aba engkau selalu mengajariku arti sebuah
kesabaran. Engkau selalu memberiku semangat. Ummi dan Aba maafkan semua
kesalahan anakmu. Aku tidak bisa membalas jasamu. Aku tidak memberi apapun,
hanya bisa memberi tulisan yang berisi perjalananku selama empat tahun jauh
darimu.
***
Bekal sedikit bukan alasan untuk tidak
mencapai cita-cita justru Insya Allah dengan bekal sedikit kita bisa menjadi
yang terbaik asalkan kita mau bekerja keras, semangat, sabar, tabah dan
tawakal. Semua hanya Allah yang tahu, kita tidak tahu takdir Allah.
Pantaskah kita Mengeluh...?
Ketika
kita mengeluh : “Ah mana mungkin.....”Allah menjawab : “Jika AKU
menghendaki,cukup Ku berkata “Jadi”,maka jadilah (QS. Yasin ; 82)
Ketika kita mengeluh : “Capek banget
gw....”Allah menjawab : “...dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat.”
(QS.An-Naba :9)
Ketika kita mengeluh : “Berat banget yah,gak
sanggup rasanya...”Allah Azza Wa Jalla menjawab : “AKU tidak membebani
seseorang, melainkan sesuai kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah : 286)
Ketika kita mengeluh : “Stressss
nih...Panik...”Allah Azza Wa Jalla menjawab : “Hanya dengan mengingatku hati
akan menjadi tenang”. (QS.Ar-Ro’d :28)
Ketika kita mengeluh : “Yaaaahh... ini mah
semua bakal sia-sia..”Allah Azza Wa Jalla menjawab :”Siapa yang mengerjakan
kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun,niscaya ia akan melihat balasannya”.
(QS. Al-Zalzalah :7)
Ketika kita mengeluh : “Gile aje..gw
sendirian..gak ada seorangpun yang mau bantuin...”Allah menjawab : “Berdoalah
(mintalah) kepadaKU,niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60)
Ketika kita mengeluh : “ Duh..sedih banget deh
gw...” Allah menjawab : “La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Janganlah kamu berduka
cita, sesungguhnya Allah beserta kita:. (QS. At-Taubah :40)
kita semua yang mulai galau atas perhatian
Allah yangg serasa jauh dari kita padahal sebaliknya Allah dekat selalu (QS.
Al-Baqarah 186).
Itulah
kata-kata yang menjadi semangatku....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar