Minggu, 22 Desember 2013

FENOMENA PEMBUATAN FACEBOOK




FENOMENA PEMBUATAN FACEBOOK
Ternyata Ide Pembuatan Facebook Sudah “Teramalkan” dalam Qur’an Sejak 14 Abad yang Silam
Suatu ketika selepas Ashar di Masjid Al Hikam. Di salah satu pojok masjid tersebut terdapat Ranid dengan dua orang temannya yakni Ahmad dan Ilmi yang terlihat sedang mendiskusikan sesuatu. Kali ini tema yang diangkat seputar masalah I’jazul Quran (Mukjizat Al Quran). Diskusi yang berjalan cukup santai namun sarat akan ilmu.

Ahmad adalah seorang mahasiswa salah satu PTS di Jakarta dengan program studi Matematika. Seorang calon pengabdi masyarakat dengan ilmunya. Ahmad selalu berupaya mengaitkan Al-Qur’an dengan bidang studinya matematika. Ahmad sering berkutat dengan angka-angka dalam Al-Qur’an.

Ahmad pun memulai diskusi. “Subhanallah alquran itu bener-bener mukjizat. Ana pernah baca di Internet bahwa ternyata kata Yaum (hari) di dalam alquran sebanyak 365 kata sama seperti jumlah hari dalam satu tahun, kata syahr (bulan) disebutin 12 kali sama kayak jumlah bulan dalam satu tahun, sab’u (minggu) disebutin 7 kali sama dengan jumlah hari per minggu. Belum lagi kata-kata yang berlawan kata. Misalnya ad dunya 115 kali, al akhiroh juga 115 kali. Malaikat 88 kali sedangkan asy syayathin 88 kali juga. Al hayat 145 kali begitupun dengan Al Maut yang juga 145 kali. Belum lagi angka 19 yang disebutin dalam alquran surat Al Mudatsir ayat 30. Sebetulnya masih banyak tapi mending antum liat di internet aja nafsi-nafsi, tinggal tanya mbah google ketik key word nya keajaiban angka dalam alquran,” Celoteh Ahmad sekaligus mengakhiri presentasinya.

Tiba giliran Ranid memaparkan pengetahuannya seputar masalah mukjizat Quran. Ranid memang sangat menyenangi diskusi-diskusi tentang kajian Islam berhubung program studi Ranid adalah bahasa Arab yang ia geluti di salah satu Ma’had Lughoh di Jakarta. Maka ia akan memaparkan sepengetahuannya tentang I’jazul Quran dari sudut pandang bahasa.

Setelah mengucapkan basmalah seraya memuji Allah dengan hamdalah, serta sholawat kepada Nabi SAW. Ranid pun mulai berkata “Mumtaz! ustadz Ahmad mantep dah penjelasannya, giliran ana ya? Gini jadi mukjizat kalo diliat dari segi bahasa maka secara sederhana dapat diartikan sebagai ‘senjata’ untuk melemahkan terhadap tantangan dakwah yang ada. Contoh di zaman nabi Musa AS berhubung waktu itu sihir sedang ngetrend-ngetrendnya maka Allah kasih mukjizat nabi Musa AS ‘menyerupai’ sihir, tapi bukan sihir, dengan tongkatnya yang terkenal. Bisa berubah jadi ular, ngebelah lautan, dsb. Trus di zaman nabi Isa AS berhubung waktu itu ilmu kedokteran lagi maju-majunya maka Allah kasih kepada nabi Isa AS mukjizat yang berhubungan dengan dunia pengobatan. Nah, di zaman Rasul SAW pada masa itu kaum jahiliyyah terkenal akan syairnya yang luar biasa Indahnya. Maka Allah pun memberikan kepada Nabi SAW berupa alquran sebuah mukjizat yang begitu sangat tinggi dan sarat akan nilai sastranya.”

Ranid masih melanjutkan pemaparannya “bahkan Allah nantangin mereka kaum kafir untuk buat satu surat saja yang semisal dengan alquran. Coba antum buka Al-Baqoroh ayat 23 ‘dan jika kamu meragukan Al-Quran yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) maka buatlah satu surat semisalnya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang yang benar,’ dan dilanjutan ayatnya, bahwa Allah sudah kasih garansi, mereka pasti gak akan mampu ngebuatnya. Pernah ada kisah tentang Musailamah Al-Kadzdzab yang coba-coba buat alquran tandingan. Salah satu suratnya niru-niru al-fiil. Dan surat gadungan itu ditertawakan banyak orang karena diliat dari sisi bahasa dan maknanya betul-betul jelek. Dan satu hal lagi cuma alquran kitab suci yang bisa dihafal oleh jutaan manusia walaupun manusianya itu sendiri pun tidak mengetahui arti alquran. Bahkan uniknya juga, hafalannya tersebut lengkap sampai titik dan komanya. Subhanallah maha benar Allah dalam firmanNya ‘dan sungguh Kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan’ Al-Qomar ayat 17,” Ranid pun mengakhiri makalah yang dibawakannya.

Selanjutnya giliran Ilmi yang mendapat giliran menjelaskan mukjizat quran berdasarkan studi yang ia geluti. Ilmi adalah seorang mahasiswa IT di salah satu PTS di Jakarta. Berbeda dengan kedua orang sahabatnya tadi, Ikhwan lajang ini tengah mengerjakan tugas akhir dalam perkuliahannya. Hal ini dikarenakan Ilmi terlebih dahulu kuliah selepas SMA daripada Ahmad dan Ranid yang sempat menunda jenjang akademisnya.

Lengkap dengan stelan kacamata khas para hacker di film Hollywood, Ilmi pun memulai pembicaraannya. “sebenernya ana belum mau mengatakan ini mukjizat atau gak? terus terang ana gak berani. Tapi salah satu point yang pernah ana dengar dalam seminar Qur’an bahwa kenapa Qur’an disebut mukjizat tak lain dan tak bukan adalah karena kebenarannya dalam ‘meramal’ masa depan. Betul gak Ran?” Ilmi bertanya pada Ranid. Ranid pun mengiyakan pernyataan Ilmi dengan mengaggukan kepala, seolah tak mau kehilangan pemaparan dari Ilmi sahabatnya.

Ilmi melanjutkan “surat al-lahab” contohnya, di situ Allah memastikan bahwa Abu Lahab bakalan tetep kafir dan masuk neraka. Dan ketika surat itu turun di Mekkah, Abu Lahab ternyata masih hidup. Sekarang coba antum bayangin kalo seandainya Abu Lahab itu tergerak hatinya untuk masuk Islam atau pun pura-pura masuk Islam maka Al-Quran akan dipertanyakan kebenarannya dari dulu sampai sekarang. Ataupun di surat Ar-Rum di situ dijelaskan bahwa Romawi bakalan menang melawan Persia. Dan itu subhanallah terjadi beberpa tahun kemudian. Setelah pada peperangan yang sebelumnya Romawi kalah maka pada peperangan selanjutnya Romawi menang telak.

Dan satu lagi peristiwa fathul Mekkah di surat Al-Fath. Allah memastikan kaum Muslimin akan memasuki Mekkah setelah sekian lama hijrah ke Madinah. Dan subhanallah hal itu terbukti.”

“Ah itu mah ana dari aspek sejarah Mi, coba dari aspek IT sesuai sama studi antum?” Tanya Ranid seolah menantang Ilmi. “Weitss, tenang-tenang ana kan belum selesai jelasinnya, ana lanjut ya!” Jawab Ilmi. “Nah berhubung tadi ana bilang ana gak berani nyebut ini mukjizat atau nggak, maka ana akan bilang ini kehebatan Quran.” Ilmi masih melanjutkan, sementara kedua rekannya Ahmad dan Ranid masih terus diam dan menyimak kata per kata yang akan terlontar dari mulut Ilmi. “Antum tau gak, bahwa sejak 1400 tahun yang lalu alquran sudah menyinggung tentang Facebook dan kawan-kawannya?!” Ahmad sang Cagur (Calon Guru) tertegun diiringi dengan tertawa kecil seolah tak percaya statmen Ilmi. Lain lagi dengan Ranid yang masih berpikir dan mencari-cari bahwa apakah benar kata Facebook ada di dalam alquran. Dengan mencoba mentashrif pola-pola fi’il.

Ilmi meneruskan kembali pemaparannya “Ahmad, coba antum buka surat Al-Ma’arij ayat 19-21 ‘Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan dia jadi kikir.’ Ayat ini menjelaskan fenomena jama’ah Al-Fisbukiyyah secara umum. Coba antum liat wirid-wirid mereka. Kebanyakan isinya keluh kesah. Temanya udah mirip sinetron mendayu-dayu sampai bikin air mata keluar. Sakit dari mulai bisul, cantengan, jerawat, sampai ayan di update di status. Cuaca juga gak ketinggalan. Dikasih hujan, ngeluh gak bisa kemana-mana. Dikasih panas ngeluh kepanasan. Segala maksiat juga disebarin di muka umum. Masalah duit abis, rezeki seret terus dan terus di suguhkan. Ibadah juga ada beberapa yang dipublikasikan puasa, sedekah, tapi alhamdulillah ana belum menemukan ada orang yang lagi sholat update status ‘lagi roka’at dua nih’ naudzubillah kalo sampai ada!” canda Ilmi. Ahmad dan Ranid pun tertawa dan mengaminkan ucapan Ilmi. “Terus di ayat setelahnya dikatakan ‘apabila dapat kebaikan maka ia kikir.’ Ana rasa betul ayat tersebut. Coba antum hitung ada beberapa orang yang update status semisal alhamdulillah dapet rezeki, buat yang mau ditraktir harap tunggu di depan masjid. Kira-kira ada gak status kayak gitu. Giliran dapat rezeki yang melimpah pada pelit gak mau orang lain pada tau, tapi giliran ditimpa musibah di share kemana-mana.”

“Ah, antum iri aja kali jangan sok jaim deh?!” Kali ini Ahmad yang bertanya kepada Ilmi. Ilmi pun menjawab “ana rasa jaim itu perlu, dalam konteks JAIM, Jaga-Iman berkaitan dengan hal malu, ana tidak mengharamkan update status, akan tetapi alangkah baiknya update-nya itu yang baik-baik pokoknya temanya mengajak kebaikan dari quran, hadits, sahabat, ataupun salafush sholih. Inget akh dalam hadits riwayat Bukhori dikatakan Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu. Ulama bilang bahwa jika kita udah gak malu sama Allah dan tidak merasa diawasinya maka tunaikan saja hawa nafsumu dan lakukan apa yang kau inginkan.” Jawab Ilmi.

Ranid tak menyangka sahabatnya Ilmi dapat menarik dan mengaitkan surat Al-Ma’arij ayat 20-22 dengan fenomena Facebookers yang bergentayangan di dunia maya. Alhamdulillah bertambah satu lagi pengetahuan Ranid pada hari itu. Sungguh Ranid sejatinya sudah sering membaca atau bahkan menghafalkan surat ini. Namun dikarenakan kurang men-tadabbur-i ayat ini maka alangkah kagetnya ia mendengarkan penjelasan yang dipaparkan oleh sahabatnya Ilmi.


  By : Teman-Teman Seperjuangan

PERJALANAN YANG MULUS



PERJALANAN YANG MULUS

Biaya pendidikan di kota ini sangat mahal, makin tahun makin mahal.  Alhamdulillah aku dikampus ini mendapatkan beasiswa penuh sampai selesai tanpa biaya apapun kecuali biaya hidup bayar sendiri. Dari beasiswa ini aku merasakan kegembiraan dan kesedihan, bahagia karena bisa mengurangi beban orang tua dan juga merasa sedih, karena belum bisa apa-apa. Aku kuliah tanpa bekal apapun hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Aku sering bertanya pada diri  saya sendiri.
“mengapa saya bisa diterima dikampus ini, padahal aku belum mempunyai bekal apa pun?”.
Tapi dengan ini aku bisa mengambil pelajaran dari pengalaman yang aku hadapi selama kuliah dan berada didaerah orang lain, bahwas eseorang bias diterima di Universitas tidak harus mempunyai bekal yang sangat tinggi, tetapi juga butuh motivasi dan keinginan dari kita sendiri. Dan  karena semua ini adalah kehendak dan rencana Allah.
Suatu saat aku di ajak jalan-jalan sama ayah, untuk melihat Universitas di Bogor, yang tidak jauh dari kampus kakakku. Tiba aku dan ayah di suatu kampus yang bernama STEI Tazkia yang letaknya di Dramaga Bogor. Ketemulah ayah dengan salah satu dosen dan merekan gobrol-ngobrol. Tanpaku  duga dosen itu berkata.
“Adek langsung masuk aja di kampus ini”, kata salah satu dosen.
Beneran pak??? Kataku.
Ia benar dek” jawab dosen
Betapa bahagianya saya bisa diterima di kampus Tazkia, tanpa bekal apa pun, karena saya hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) apalagi saya masuk d kampus tazkia tanpa tes, tidak seperti mahasiwa lainnya, mereka harus tes dan ikut beberapa kegiatan, sedangkan aku tidak.
 Pertama aku masuk tazkia keesokannya langsung kuliah. Ketika aku sudah mengikuti perkuliahan cobaan demi cobaan datang menghampriku, mulai dari pelajaran yang belum bisa sampai makian dari teman-teman, tapi aku mencoba untuk sabar dan tabah dalam menghadapi semua ini. Karena aku pingin membuktikan bahwa bukan semua orang yang mempunyai bekal dan pandai yang berhasil, akan tetapi orang yang tidak mempunyai bekal dan pas-pasan juga bisa berhasil.
Hari demi hari kulewati dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Di suatu saat aku mau mengerjakan tugas dari dosen, ketika itu aku bertanya sama teman kamar aku bagaimanacaranya, betapa kagetnya aku, ketika temanku berkata,
“ Masak Cuma seperti ini kamu tidak tahu, padahal ini gampang, kamu itu mondok dimana sich kok tidak tahu apa-apa”. Kata salah satu teman sekamarku.
Takterasa air mataku mengalir dengan sendirinya, Ya Allah berilah kesabaran dan ketabahan kepada hamba dalam mengahadapi semua ini, berilah teman hamba tidak seperti apa yang hamba alami sekarang”. Inilah kata-kata yang muncul ketika aku mendengar kata-kata dari teman sekamarku.
Tibalah pada pelajaran yang paling aku benci dan yang belum aku bisa meski sebelum aku kulian aku sempat belajar sebentar. Waktu itu pelajarannya Bahasa Inggris sama dosen kita disuruh kenalan pakek bahasa inggris dan disuruh maju kedepan, ketika itu aku mulai takut dan tidak percaya diri. Tibalah pada giliranku untuk memperkenalkan diriku, betapa malunya aku ketika ditanya, tapi aku tidak faham apa yang ditanyakan dosen kepadaku, sungguh bodohnya aku. Dari itu aku tidak percaya diri dan tidak PD.
Setiap hari sehabis pulang kuliah pasti kerjaanku menangis, karena aku merasa tidak mampu dalam pelajaran dikampus, aku terus menguluh dan mengadu kepada orang tua, mungkin orang tuaku bisa memberiku semangat. Dan setiap aku dimaki-maki ataupun dikelas belum bisa, aku selalu sms pada orang tua untuk berhenti dari kampus, karena aku merasa tidak mampu dalam pelajarannya, tetapi ortuku tidak mengizinkan, karena sudah terlanjur masuk tazkia. Karena aku mintak berhenti tidak di perbolehkan, dari itu aku hanya bisa pasrah dan pasrah, karena aku percaya bahwa apa yang aku hadapi sekarang adalah kehendak Allah dan Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya melaikan Allah tahu bahwa hamba-Nya sanggup melewati cobaan tersebut. Meski cobaan terus datang aku tetap bersyukur karena semester demi semester nilaiku meningkat.
Tibalah pada semester tiga yang mana aku danteman-teman se angkatan harus pindah ke Tazkia yang ada di Sentul. Dan baru kali ini aku merasakan satu ruangan bersama ikhwan, meski tempat duduknya pisah, tapi aku merasa tidak enak dan tidak bebasa palagi teman-teman kelasaku pintar-pintar. Ada salah satu teman yang orangnya tidak mau dikalahkan sama orang lain, sampai-sampai diasering memaki saya, tapi saya tidak pernah menjauh dari dia meski dia sering memakiku, karena aku berpikir kalau tidak belajar dengan dia siapa lagi, soalnya hanya dia yang satu kontrakan denganku, sedangkan teman-teman se kelasku yang lain kontrakannya jauh. Sebut saja namanya Ami
Waktu itu aku pernah main di kamar ami, dan waktu itu juga aku membacabuku.
“ kamu tidak lulus ya, bahasa indonesianya? Baca bahasa indonesia saja kayak gitu, pantes bahasa inggrisnya tidak lulus”. Kata Ami
Betapa terkejutnya aku ketika dia bilang seperti itu, tapi apa salahnya sich kita belajar untuk mengetahuinya. Masih banyak makian dia kepadaku, tapi sama aku hanya di buat penyemangat. Aku heran, ketika aku faham tentang pelajaran misalkan, Managemen Keuangan, ami seperti tidak terima, pernah aku belajar bareng ama dia, pas aku bilangin caranya bukan seperti itu, dia ngambek dan dia seperti marah. Ya begitulah kalau orang pintar. Maka dari itu aku bisa mengambil hikmah, Allah memberiku seperti ini atau pas-pasan agar aku itu tidak sombong dan aku harus saling mengerti satu sama lain. Karena aku lihat kebanyakan orang pintar itu sombong.
Meski aku kuliah tanpa modal, aku akan membuktikan kepada orang tua, keluarga dan teman-teman apalagi yang sering menghinaku, bahwa aku bisa melebihi mereka dan aku bisa menjadi wisudawan yang terbaik. Amin
Selang beberapa tahun kemudian tibalah waktu yang aku tunggu-tunggu, yaitu pengumuman kelulusan, betapa terkejutnya ketika nama aku di sebut. Siti Khodijah dengan nilai IP 4 dan IPK 4. Tidak terasa air mataku mengalir dengan sendirinya, inilah hasil perjuanganku selama ini, ternyata sebuah perjuangan itu tidak akan sia-sia. Allah tidak akan melihat hasil kita, tetapi Allah melihat seberapa besar perjuangan kita itulah hasil kita. Tidak hanya itu kebahagian datang ketika aku wisuda ternyata apa yang aku inginkan tercapai, yaitu menjadi wisuda terbaik. Akhirnya aku bisa membuktikan kepada orang tua, keluarga dan teman-teman bahwa aku bisa melebihi mereka, dan aku bisa menyatakan meski kita mempunyai bekal sedikit kita pasti bisa.
Dan bekal sedikit bukan alasan untuk tidak mencapai cita-cita justru Insya Allah dengan bekal sedikit kita bisa menjadi yang terbaik asalkan kita mau bekerja keras, semangat, sabar, tabah dan tawakal. Semua hanya Allah yang tahu, kita tidak tahu takdir Allah.
Pantaskah kita Mengeluh...?
            Ketika kita mengeluh : “Ah mana mungkin.....”Allah menjawab : “Jika AKU menghendaki,cukup Ku berkata “Jadi”,maka jadilah (QS. Yasin ; 82)

Ketika kita mengeluh : “Capek banget gw....”Allah menjawab : “...dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS.An-Naba :9)
Ketika kita mengeluh : “Berat banget yah,gak sanggup rasanya...”Allah Azza Wa Jalla menjawab : “AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah : 286)
Ketika kita mengeluh : “Stressss nih...Panik...”Allah Azza Wa Jalla menjawab : “Hanya dengan mengingatku hati akan menjadi tenang”. (QS.Ar-Ro’d :28)
Ketika kita mengeluh : “Yaaaahh... ini mah semua bakal sia-sia..”Allah Azza Wa Jalla menjawab :”Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun,niscaya ia akan melihat balasannya”. (QS. Al-Zalzalah :7)
Ketika kita mengeluh : “Gile aja Aku sendirian..gak ada seorangpun yang mau bantuin...”Allah menjawab : “Berdoalah (mintalah) kepadaKU, niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60)
Ketika kita mengeluh : “ Duh..sedih banget deh aku...” Allah menjawab : “La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita:. (QS. At-Taubah :40)
kita semua yang mulai galau atas perhatian Allah yangg serasa jauh dari kita padahal sebaliknya Allah dekat selalu (QS. Al-Baqarah 186).
Itulah kata-kata yang menjadi semangatku....


BY
KENBY

Kamis, 19 Desember 2013

Usaha Yang Dijawab Allah



Usaha Yang Dijawab Allah


07-12-2011

Rabu sore tepatnya pukul 16.30 WIB, seorang mahasiswi pulang dengan pakaian yang basah kuyup. Hujan deras dan petir yang menggelegar menemani langkahnya, peristiwa alam ini biasa dia hadapi di kota berjuluk Kota Hujan alias Kota Bogor. Hal itu dia abaikan, dia terpaksa pulang karena  belum shalat ‘asar.Mata kuliah yang cukup padat hari itu dan kerja kelompok di kampus membuatnya tak dapat menunaikan kewajiban shalat awal waktu.

Dalam perjalanan pulang, dia sangat gembira karena tugasnya yang selama ini menumpuk mulai berkurang. Dia berencana malamini akan  menyelesaikan tugas artikel mata kuliah Fiqh Mawarits yang harus dia kumpulkan sebelum hari Minggu ini.

Setelah sholat, dia mencoba membuka notebook yang dipinjam dari Bibinya.Tiba-tiba,
“Haaa… mana dataku?”, kata Afi.

Dia berkata dalam hatinya, “ Ya Allah cobaan apa lagi yang Engkau berikan kepadaku?. Semoga data-dataku tidak hilang. Ya Robb, tolong...”.

Dia membuka semua folder yang ada di notebooknya itu satu persatu. Dia perhatikan baik-baik setiap judul file yang ada. Sambil terus berdo’a semoga file tugasnya tidak hilang. Setelah tiga kali dia cek tiap file, barulah dia yakin datanya benar-benar hilang. Ialemas dan tidak mempunyai semangat lagi untuk mengerjakan tugasnya.Dengan wajah sangat memelas, diamematikannotebook itu untuk menenangkan hatinya yang sedang gundah.

Dia terus merenungi nasibnya, notebook yang dia pinjam harus dikembalikan  2 hari yang akan datang. Dia khawatir tugasnya tidak bisa diselesaikan sebelum itu.

“Ya Allah, kalau tugasku belum selesai, bagaimana aku mengerjakannya?Laptop ini harus hamba kembalikan keBibi.Tak mungkin hamba terus-terusan merepotkan Bibi dengan meminjamnya”,kata Afi sambil menangis.

Afi berkata lagi, “Seandainya notebook ini punyaku tidak mungkin keadaanku seperti ini, penuh dengan gelisah dan emosi”.

Sebelum berangkat kuliah tadi pagi dia membayangkan tugas artikelnya selesai hari ini.Tapi yang tertinggal sekarang hanyalah kenyataan.Dia terus berusaha untuk bersabar dan tabah, walaupun hatinya penuh dengan perasaan kecewa.Dia terus merenungkan nasibnya. Tiba-tiba dia melihat papan tulis di tembok kamarnya. Dia membaca sebuah tulisan yang sangat mencolok :

“Kapan aku bisa punyalaptop atau notebook?”. Itulah tulisan yang ditulisnya pada bulan Oktober, ditulis dengan huruf kapital untuk memompa semangatnya.

Sejak masuk kuliah Afi ingin punya laptop, tapi orang tuanya di Madura tidak mengizinkan.Entah apa alasan orang tuanya tidak membolehkan.Padahal saat ini, laptop adalah benda penting terutama bagi orang yang sedang kuliah, seperti dirinya. Dia sempat berfikiruntuk mencari pekerjaan yang hasilnya akan dia tabung untuk membeli notebookatau laptop. Tapi keinginan itu mustahil, karena kedua orang tuanya tidak berkenan.Sejak keinginannya tidak tercapai.Afihanya  bisamencoba untuk sabar dan tabah dalam menghadapi semua ini.

“Apakah ini adalah sebuah tanda bahwa Allah sayang  padaku?. Aku yakin dibalik semua ini pasti ada hikmahnya, dan aku yakin dimana ada kesulitan maka disitu ada kemudahan”. Kata-kata inilah yang terus mendorong Afi untuk menerima semua ini.

***

Suatu hari Afi pernah mendapat tugas kelompok. Saat itu dia ajak teman kelompoknya untuk mengerjakan tugasnya di perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan, dia hanya bengongsaja melihat teman-temannya sibuk mengutak-atik tugas di depan laptop mereka.Dia menoleh kiri-kanan, hampir semua temannya membawa laptop.Hanya dirinya saja yang tidak membawa. Timbullah pertanyaan dipikiran Afi yang tidak asing lagi.

“Kapan aku bisa punya laptop atau notebook?”, pertanyaan yang selalu muncul dibenak Afi ketika dia sangat membutuhkan laptop atau notebook.

Setiap ada tugas, ia harus menunggu teman tetangga kamarnya pulang. Apalagi kalau bukan untuk meminjam laptop.Dari situlah dia bisa mengerjakan tugasnya. Meski terhambat menyelesaikan tugasnya, ia tetap semangat. Tak dipedulikannya keterbatasan fasilitas.

***

Artikelnya yang hilang adalah tugas dari dosen Fiqh Mawarits.Artikel itu harus dikumpulkan pada pertemuan ke 13 bertepatan pada hari Minggu ini, tiga hari lagi. Pada saat mendengar pemberian tugasitu, dia hanya bisa tersenyum simpul sambil bertanya-tanya bagaimana cara dia mengerjakannya.Saat itu temannya yang biasa dipinjami laptopnya sedang pulang ke kampung halaman dan kembali dua minggu kemudian.

Dia terus memohon kepada Allah agar dimudahkan segala urusannya yang berhubungan dengan kebaikan. Beberapa hari kemudian Allah mendengar doaAfi.

”Ah…. Aku coba pinjam Bibiku, siapa tahu sedang nganggur?!”.Akhirnya dia mencoba sms bibinya. Bibi dari ibunya yang sudah bermukim di Bogor karena ikut sang suami.

“Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, akhirnya hamba bisa pinjam notebook”, kata Afi dengan nada penuh gembira ketika bibinya membolehkan meminjam notebooknya selama dua minggu.

***

Hari Selasa lalu bertetapan dengan tanggal 25 November, salah satu teman kelompoknya memintanya menulis ayat Al-Qur’an untuk makalah.Kebetulan notebookyang Afi pinjam dari bibinya ada teks Al-Qur’an.

“Afi, tolong kamu ketik ayat Al-qur’annya ya?”, kata salah satu temannya.

‘’Baik Insya Allah”, Afi menyanggupi.

Ketika Afi pulang dari kampus, dia mencoba membuka makalah yang sudah dibuat oleh temannya.Betapa terkejutnya dia, ternyata isi makalah tersebut belum selesai.Bagian daftar isi, penutup, dan perlu di-edit-edit.Dia bingung, karena makalah itu harus selesai keesokan paginya.

“Ya Allah, seandainya saya tidak pinjam notebookBibi, apa yang akan terjadi besok?”, kata Afi dengan nada sedih.Diselesaikannya tugas makalah itu kemudian sambil tak putus bersyukur karena ada kemudahan saat itu.

***
Mengetahui artikel Fiqh Mawarits-nya hilang, Afi hanya bisa merenung, melamun hingga akhirnya dia tertidur dalam lamunannya.

Drrrt…..Drrrt…..Drrrt, terdengarlah suara alarm dari Hpnya. Alarm menunjukkan angka 02.00 malam, jam yang telah dipasang Afi setiap harinya.Afi pun bangun dari tidurnya yang sangat nyenyak untuk melaksanakan sholat malam dan membaca Al-Qur’an.Setelah membaca Al-Qur’an, Afi sahur.Malam itu bertepatan dengan malam Kamis. Afi selalu melakukan puasa sunnahSenin Kamis. Tiba-tiba ditengah dia makan dia teringat akan janji orang tuanya, bahwasanya jika putra-putrinya bisa membuat novel atau cerpen maka akan diberi hadiah notebookatau laptop.

Timbullah keinginannya untuk membuat cerpen agar bisa mendapatkan laptop atau notebook.

Tapi dia bertanya-tanya, “Bagaimana caranya agar aku bisa membuatnya?” .Pertanyaan itu terus menggema di pikirannya.

Jam menunjukkan jam 04.00, tibalah saatnya dia mandi. Di pertengahan mandi, dia memikirkan lagi, “Bagaimana caranya agar aku bisa menulis cerpen atau novel?”.

Afi teringat sebuah coretan yang pernah dia tulis.Dia pun berencana meneruskannya menjadi sebuah cerpen atau mungkin novel.

Dia berharap suatu saat ketika dia bisa menulis cerpen atau novel, bisa dimuat di majalah atau koran. Dia ingin membuktikan pada orangtua, keluarga dan teman-temannya bahwa dia bisa.Meski pun dia hanya lulusan pondok pesantren.Ya, meski pun lulusan pondok pesantren dia sangat bersyukur kepada Allah. Meski pun lulusan pesantren tapi dia bisa diterima di salah satu perguruan tinggi di Bogor. Entah apa kelebihannya hingga dia bisa diterima untuk kuliah dengan modal lulusan pondok pesantren, pikirnya selama ini. Dia hanya bercita-cita ingin kuliah tanpa biaya dari orang tuanya.

Keesokan paginya, dia tidak bisa berkonsentrasi pada mata kuliahnya. Dia teringat terus pada file artikelnya yang hilang. Dia hanya bisa menangis dan menangis.

Dia terus berpikir bagaimana jika tugas itu belum selesai sebelum hari Minggu besok.Bagaimana dia bisa mengerjakannya?Haruskah dia pinjam terus-menerus dan menunggu temannya pulang?Dia merasa malu jika terus-menerus pinjam.

            Akhirnya dia putuskan untuk menggunakan sisa waktunya untuk mengerjakan tugasnya lagi dari awal.Dengan penuh semangat, akhirnya Afi pun bisa menyelesaikan tugasnya pada hari Sabtu.Tapi pada hari itu juga dia bingung karena daftar isinya belum selesai. Dia bertanya-tanya pada teman-temannya bagaimana cara membuat daftar isi.Maklum sejak kuliah dia belum pernah tahu cara membuat daftar isi. Setiap ada tugas, teman kelompoknyalah yang menyusun makalahnya, sedangkan Afi hanya membantu mencari materi.

Dia pun berkata dalam hatinya, “Ya Allah cobaan apa lagi yang Engkau berikan kepada hamba?”.Itulah kata-kata yang terus muncul di benak Afi.Tapi dia tidak putus asa, terus mencoba dan mencoba.Dia terus coba-coba dan jika tidak bisa dia tak malu meminta tolong pada temannya. Akhirnya tugas artikel itu bisa diselesaikannya tepat waktu. Dia minta tolongdibuatkan daftar isi dan sekalian mengirimkan tugas itu ke email dosennya. Afi tidak mau melihat lagi hasil tugasnya, dia tak ingin dibuat stres lagi. Apalagi hari Ahadnya notebookyang Afi pinjam harus dikembalikan.

***

            Satu minggu sebelum UAS,Afikebinggungan.Dia bingung bagaimana caranya dia belajar.Semua materi ujian yang diberikan dosennya berbentuk SOFT COPY.Ketika dia mau mencatat, dosenmenyampaikan materi dengan cepat.Begitu selesai menjelaskan langsung dihapus.Sehingga dia tidak sempat mencatat.Pinjam catatan teman-teman juga tidak lengkap.Akhirnya tidak ada pilihan lain, dia terpaksa ngeprint semua materi dari dosennya.

“Bu, perlembarnya berapa?”, tanyaAfi pada penjaga warnet langganannya.

‘’Lima ratus kalau tidak berwarna”, jawab Ibu itu.
           
Afi menunggu printout-nya selama tiga jam.Tiba-tiba datanglah suami ibu penjaga warnet tersebut. Dan betapa terkejutnya Afi ketika suami sang ibu berkata bahwa perlembarnya ternyata seribu rupiah.
Afi berkata dalam hati, “ Kalau tahu satu lembarnya seribu, aku tidak ngeprint”.
Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur nasi jadi bubur.Akhirnya Afi minta kortingan.Afi hanya bisa ikhlas.
‘’Mungkin ini adalah rezeki Bapak dan Ibu itu“, kata Afi.

***

            Pada tanggal 1 Februari akhirnya nilai UAS keluar.Betapa terkejutnya Afi ketika melihat nilainya.Meski nilainya jelek, tapi dia bersyukur.Nilainya naik dibandingkan nilai semester lalu.Dia tidak menyangka tugas artikel yang dia kerjakan sampai harus pinjam notebookpada Bibinya mendapat nilai 100. Padahal dia mengira akan dapat 30.
           
“Benar apa janji Allah kepada ummat-Nya bahwa Dia akan memberikan hasil sesuai dengan usahanya”.

            Kata-kata itulah yang terus mendorong Afi untuk tidak mengeluh dengan apa yang menimpanya. Dia terus berusaha untuk meraih cita-citanya, meski fasilitas terbatas. Menurutnya, keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk tidak bisa. Justru dengan keterbatasan itu kita akan bisa.

***
           
            Bertepatan pada tanggal 27 Februari.

            Tok…tok…tok…

Afi terkejut ketika seorang petugas pos tiba-tiba mengetuk pintu kamar kost-nya sambil membawa sebuah bungkusan.Setelah menerima bungkusan yang ternyata dikirim oleh orang tuanya, dengan tak sabar dia membukanya.Betapa terkejutnya dia. Sebuah kotak bergambar notebook baru dipegangnya.

“Untuk ananda Afi di perantauan ilmu.Bersama ini kami kirimkan sebuah laptop untuk ananda. Semoga dengan ini akan menambah semangat dan kemudahan bagi ananda dalam mereguk ilmu. Satu minggu yang lalu saat ananda menelpon dan mengabarkan hasil belajar ananda, kami sangat bangga mendengarnya.Sebagai hadiah, kami sepakat untuk membelikan ananda laptop.Pergunakan sebaik-baiknya.Salam sayang dari Ayahanda dan Ibunda”.

Afi berlinang air mata membaca selembar kertas di dalam bungkusan itu.Perasaannya campur aduk, terharu, senang.Dia sangat senang sekali, akhirnya keinginanya selama ini terwujud.Dia punya laptop. Dia tidak perlu malu-malu lagi pinjam pada temannya. Dia sangat bersyukur kepada Allah dan berterimakasih kepada orang tuanya, karena tanpa membuat novel atau cerpen dia bisa punya notebook.

            Inilah hasil dari usaha Afi. Semua yang kita lakukan dengan ikhlas dan sabar akan membuahkan hasil yang lebih baik, asal kita mau berusaha dan bersyukur. Semua usaha yang kita lakukan tidak akan sia-sia.Dia terus meyakini itu.

By :
                                                                                                                                 Kenby