CURAHAN HATI SAHABAT UNTUK SANG BUNDA
Seorang sahabat datang padaku, dia mencurahkan isi hatinya padaku
karena dia sudah tidak tahu akan kemana lagi dia mengadu, dia terus berusaha
untuk menyimpan sendiri dalam hatinya, tetapi dia sudah tidak kuat jika terus
menurus seperti ini. Dia membutuhkan seorang sagabat yang bisa memberi motivasi
dan semangat hidup.
Sebutlah namanya Fathimah. Aku bertanya kepadanya.
“Kenapa kamu ukhti? Apa yang membuatmu seperti ini?”
“Apakah ada seorang ibu yang menyakitkan hati anaknya? Apakah ada
ibu yang tidak sayang dan bangga pada anaknya? Apakah ada ibu yang bilang
anaknya selalu menggugat?” jawab Fathimah dengan suara bersedu-sedu.
“Fathimah, seorang ibu pasti sangat mencintai dan bangga pada
anaknya. Kamu jangan bialng seperti itu” jawabku tegas.
“Tapi emang ini kenyataan” jawab fathimah.
“Ya sudah fathimah cerita lah padaku, siapa tahu kamu bisa lebih
tenang. In Sya Allah aku akan menjaga rahasiamu” Tegasku
***
Mulailah dia menceritakan masalahnya.
Aku mempunyai tujuh bersaudara. Aku emang lahir dari rahim ibu,
tapi aku tidak pernah merasakan kasih sayang mereka seperti anak-anak yang lain,
aku sadar kasih sayang orang tua itu berbeda-beda. Waktu aku umur 3 tahun, aku
di tinggal orang tuaku bersama nenek dan kakek. Orang tuaku pergi merantau,
mungkin satu tahun dann dua tahun aku bisa bertemu dengan orang tuaku.
Sekitar tahun 2010 orang tuaku pulang dan menetap di kampung, tapi sekitar
tiga bulanan aku berkumpul dengan mereka, disela-sela aku berkumpul ada
kejadian yang tidak bisa aku lupakan, aku mencoba untuk melupakannya, tapi
tidak bisa. Kejadian itu bermula ketika adek ke empat dan ke lima bertengkar
gara-gara hanya hal sepele, akhirnya adek yang ke lima mengunci pintu di gudang,
waktu itu orang tuaku lagi pergi. Ketika mereka tiba dirumah, mereka mencari
adek yang ke lima. Akhirnya mereka mengetahui bahwa adek yang ke lima itu di
dalam gudang, hingga akhirnya aku kena marah, karena adek yang ke empat dan ke
lima bilang kepada mereka bahwa yang membuat semua ini adalah gara-garaku. Sungguh
orang tuaku marah padaku, hingga akhirnya aku kembali ketempat nenek dan kakek.
Sudah beberapa hari aku tidak bertemu dengan mereka, tetapi hampir setiap
hari aku bertemu dengan ibu dan adek-adek di rumah nenek. Pertemuan ini membuat
hatiku sakit banget, karena meski aku bertemu dengan ibu, tidak ada sepatah
katapun yang keluar untuk menyapaku, hanya sifat ketus dan acuh tak acuh yang
terlihat. Bahkan adek-adekku sering mengejek-ngejekku dengan kata-kata kotor,
betapa hati sakitnya hati ini jika mengingat kejadian ini. Sampai ku berfikir
dan bertanya-tanya dalam diriku sendiri “Apakah benar aku ini anak
kandung ibu dan ayah?”. Mengapa sikap ibu seperti itu, padahal hanya
hal spele.
Suatu hari aku mendengar cerita dari seorang sebut namanya afi, dia
adalah seorang tetanggga yang biasa membantu ibu. Dia bilang bahwa ketika ibu
pulang, ayah menunggu kedatanganku, tetapi ayah tidak melihatku bersama ibu. Ayah
bertanya pada ibu.
“Mana Fathimah bu?” Tanya ayah.
“Biarlah yah, tidak usah difikir. Nanti kalau dia butuh pasti
datang” Jawab ibu dengan ketus.
Mendengar cerita itu aku langsung menangis, kenapa ibu seperti itu
padaku padahal sudah lama aku tidak berkumpul dengannya. Aku kira dengan
bertemu dan berkumpulnya dengan ibu dan ayah, aku dapat merasakan kasih sayang,
merasakan hangat pelukannnya. Tetapi impianku salah.
***
Hampir setiap hari ibu selalu merah pada anak-anaknya, sampai aku
kasihan pada adek-adek yang masih kecil. Suatu hari aku mendengar ibu bercerita
dengan adek yang ke empat dan ke lima dikamar, dengan rasa penasaran aku masuk
ingin mendengarkan juga, tetapi aku masuk ibu berhenti. Dalam hatiku, kenapa
ibu berhenti? Akhirnya aku keluar kamar, dan herannya belum begitu jauh dari
kamar, terdengar lagi suara ibu bercerita.
Sempat suatu hari ibu marah padaku gara-gara kertas yang kecil,
gara-gara hal ini membuat ibuku mengeluarkan kata-kata yang tidak patut
dikeluarkan dari mulut seorang ibu, karena kata-kata ibu adalah doa. Aku juga
heran ibu lebih sayang pada saudaranya ketimbang anak kandungnnya. Ibu lebih
mementingkan oarng lain ketimbang keluarganya.
Ibu juga sering mengungkit-ngungkitkan biaya-biaya yang sudah
dikeluArkan selama aku di pesantren dan kuliyah.
“Apa gunanya kamu mondok? Apa gunanya kamu kuliyah? Cuma nagbisin
uang aja, sudah berapa biaya yang ibu dan ayah keluarkan? Coba pikir
FATHIMAH!!!
Suatu hari aku mengirimkan sms pada ibu yang isinya, aku ingin
mersakan kasih sayang, aku ingin dekat dengan ibu seperti saudara yang lain,
aku ingin ibu menjadi teman curhat, guru, tempat bersandar dikala aku jatuh,
aku ingin ibu selalu member semangat padaku. Tapi apa coba dengan tidak secara
langsung ibu bilang pada adekku bahwa aku anak yang selalu “MENGGUNGAT”.
Sungguh terkejutnya aku mendengar itu, niatku hanya ingin menyampaikan isi
hatiku. Tapi semua itu hanya keinginan.
Dari kejadian dan pengalaman aku ini, aku jadi takut untuk pulang,
aku belum siap untuk pulang. Aku takut membuat ibu dan ayah kecewa, membuat
mereka marah atas kelakuanku, aku takut jika nanti mereka marah akan
mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya dan tidak sepatutnya mereka keluarkan
sebagai orang tua.
Aku ingin mengejar cita-cita ibu, ibu ingin anaknya menjadi penulis,
pembisnis, bisa cari uang sendiri. Aku ingin mengembalikan semua biaya yang ibu
dan ayah keluarkan untuk biayaku. Meski nanti aku dapat pekerjaan dan hasilnya
tidak seberapa besar, yang peting aku bisa mencari uang sendiri dan bisa
membuktikan pada ibu bahwa aku bisa.
***
Tidak
terasa air mataku mengalir mendengar cerita dari fahtimah, ternyata ada orang
yang lebih menderita dibandingku.
“Fathimah,
kamu yang sabar ya, In Sya Allah akan selalu bersamamu. Berdoalah semoga hatimu
bisa tenang dan bisa menerima semua kejadian ini” Jawabku
“Ia
ukhti, In Sya Allah. Dan terimakasih kamu sudah mau mendengarkan ceritaku ini. Jangan
kamu jadikan beban” Jawab Fahtimah dengan suara terbata-bata.
“ia
tidak lah Fathimah ini merupakan pelajaran bagiku dan kamu agar kelak jika qta
menjadi seorang ibu, bisa lebih baik” Jawabku.
“Semua
ini pasti ada hikmahnya Fathimah, Allah sayang padamu, Allah mencoba
kesabaranmu. Dengan ini kamu juga bisa mandiri tidak tergantung pada orang tua.
Dengan hal ini kamu juga bisa mengambil contoh dari ibumu, jika kelah kamu
menjadi seorang ibu”Tegasku.
“ia
ukhti. Semoga qta bisa menjadi ibu yang sholehah, yang bisa membimbing
anak-anak qta kelak. Dan semoga kita bisa bertemu lagi dengan cerita lain dan
nuasa yang berbeda” Jawab Fahtimah dengan senyum.
“Aamiin
ya robbb” Jawabku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar