Rabu, 16 Maret 2016

Hati yang risau

Aku bukan tidak mau pulang, tapi tolong biarkan hatiku tenang dulu. Biarkan hati ini siap untuk pulang. Biarkan orang lain berfikiran dan berkata apa pun kepadaku. Aku kan berupaya untuk memahami mereka, karena mereka tidak merasakan apa yang selama ini aku rasakan. Aku merasa tertekan. Sebenarnya hati ini risau dan sedih. Sebenarnya aku kangen dan rindu pada ummi dan aba. Tapi hati ini belum siap.
Bukan aku lari,  Bukan aku tidak membutuhkan  seseorang. Pasti seorang anak pasti akan membutuhkan orang tua. Tapi aku belum siap.
Seandainya orang lain tahu apa yang aku rasakan.

Senin, 14 Maret 2016

CURAHAN HATI SAHABAT UNTUK SANG BUNDA

Seorang sahabat datang padaku, dia mencurahkan isi hatinya padaku karena dia sudah tidak tahu akan kemana lagi dia mengadu, dia terus berusaha untuk menyimpan sendiri dalam hatinya, tetapi dia sudah tidak kuat jika terus menurus seperti ini. Dia membutuhkan seorang sagabat yang bisa memberi motivasi dan semangat hidup.
Sebutlah namanya Fathimah. Aku bertanya kepadanya.
“Kenapa kamu ukhti? Apa yang membuatmu seperti ini?”
“Apakah ada seorang ibu yang menyakitkan hati anaknya? Apakah ada ibu yang tidak sayang dan bangga pada anaknya? Apakah ada ibu yang bilang anaknya selalu menggugat?” jawab Fathimah dengan suara bersedu-sedu.
“Fathimah, seorang ibu pasti sangat mencintai dan bangga pada anaknya. Kamu jangan bialng seperti itu” jawabku tegas.
“Tapi emang ini kenyataan” jawab fathimah.
“Ya sudah fathimah cerita lah padaku, siapa tahu kamu bisa lebih tenang. In Sya Allah aku akan menjaga rahasiamu” Tegasku
***
Mulailah dia menceritakan masalahnya.
Aku mempunyai tujuh bersaudara. Aku emang lahir dari rahim ibu, tapi aku tidak pernah merasakan kasih sayang mereka seperti anak-anak yang lain, aku sadar kasih sayang orang tua itu berbeda-beda. Waktu aku umur 3 tahun, aku di tinggal orang tuaku bersama nenek dan kakek. Orang tuaku pergi merantau, mungkin satu tahun dann dua tahun aku bisa bertemu dengan orang tuaku.
Sekitar tahun 2010 orang tuaku pulang dan menetap di kampung, tapi sekitar tiga bulanan aku berkumpul dengan mereka, disela-sela aku berkumpul ada kejadian yang tidak bisa aku lupakan, aku mencoba untuk melupakannya, tapi tidak bisa. Kejadian itu bermula ketika adek ke empat dan ke lima bertengkar gara-gara hanya hal sepele, akhirnya adek yang ke lima mengunci pintu di gudang, waktu itu orang tuaku lagi pergi. Ketika mereka tiba dirumah, mereka mencari adek yang ke lima. Akhirnya mereka mengetahui bahwa adek yang ke lima itu di dalam gudang, hingga akhirnya aku kena marah, karena adek yang ke empat dan ke lima bilang kepada mereka bahwa yang membuat semua ini adalah gara-garaku. Sungguh orang tuaku marah padaku, hingga akhirnya aku kembali ketempat nenek dan kakek.
Sudah beberapa hari aku tidak bertemu dengan mereka, tetapi hampir setiap hari aku bertemu dengan ibu dan adek-adek di rumah nenek. Pertemuan ini membuat hatiku sakit banget, karena meski aku bertemu dengan ibu, tidak ada sepatah katapun yang keluar untuk menyapaku, hanya sifat ketus dan acuh tak acuh yang terlihat. Bahkan adek-adekku sering mengejek-ngejekku dengan kata-kata kotor, betapa hati sakitnya hati ini jika mengingat kejadian ini. Sampai ku berfikir dan bertanya-tanya dalam diriku sendiri “Apakah benar aku ini anak kandung ibu dan ayah?”. Mengapa sikap ibu seperti itu, padahal hanya hal spele.
Suatu hari aku mendengar cerita dari seorang sebut namanya afi, dia adalah seorang tetanggga yang biasa membantu ibu. Dia bilang bahwa ketika ibu pulang, ayah menunggu kedatanganku, tetapi ayah tidak melihatku bersama ibu. Ayah bertanya pada ibu.
“Mana Fathimah bu?” Tanya ayah.
“Biarlah yah, tidak usah difikir. Nanti kalau dia butuh pasti datang” Jawab ibu dengan ketus.
Mendengar cerita itu aku langsung menangis, kenapa ibu seperti itu padaku padahal sudah lama aku tidak berkumpul dengannya. Aku kira dengan bertemu dan berkumpulnya dengan ibu dan ayah, aku dapat merasakan kasih sayang, merasakan hangat pelukannnya. Tetapi impianku salah.
***
Hampir setiap hari ibu selalu merah pada anak-anaknya, sampai aku kasihan pada adek-adek yang masih kecil. Suatu hari aku mendengar ibu bercerita dengan adek yang ke empat dan ke lima dikamar, dengan rasa penasaran aku masuk ingin mendengarkan juga, tetapi aku masuk ibu berhenti. Dalam hatiku, kenapa ibu berhenti? Akhirnya aku keluar kamar, dan herannya belum begitu jauh dari kamar, terdengar lagi suara ibu bercerita.
Sempat suatu hari ibu marah padaku gara-gara kertas yang kecil, gara-gara hal ini membuat ibuku mengeluarkan kata-kata yang tidak patut dikeluarkan dari mulut seorang ibu, karena kata-kata ibu adalah doa. Aku juga heran ibu lebih sayang pada saudaranya ketimbang anak kandungnnya. Ibu lebih mementingkan oarng lain ketimbang keluarganya.
Ibu juga sering mengungkit-ngungkitkan biaya-biaya yang sudah dikeluArkan selama aku di pesantren dan kuliyah.
“Apa gunanya kamu mondok? Apa gunanya kamu kuliyah? Cuma nagbisin uang aja, sudah berapa biaya yang ibu dan ayah keluarkan? Coba pikir FATHIMAH!!!
Suatu hari aku mengirimkan sms pada ibu yang isinya, aku ingin mersakan kasih sayang, aku ingin dekat dengan ibu seperti saudara yang lain, aku ingin ibu menjadi teman curhat, guru, tempat bersandar dikala aku jatuh, aku ingin ibu selalu member semangat padaku. Tapi apa coba dengan tidak secara langsung ibu bilang pada adekku bahwa aku anak yang selalu “MENGGUNGAT”. Sungguh terkejutnya aku mendengar itu, niatku hanya ingin menyampaikan isi hatiku. Tapi semua itu hanya keinginan.
Dari kejadian dan pengalaman aku ini, aku jadi takut untuk pulang, aku belum siap untuk pulang. Aku takut membuat ibu dan ayah kecewa, membuat mereka marah atas kelakuanku, aku takut jika nanti mereka marah akan mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya dan tidak sepatutnya mereka keluarkan sebagai orang tua.
Aku ingin mengejar cita-cita ibu, ibu ingin anaknya menjadi penulis, pembisnis, bisa cari uang sendiri. Aku ingin mengembalikan semua biaya yang ibu dan ayah keluarkan untuk biayaku. Meski nanti aku dapat pekerjaan dan hasilnya tidak seberapa besar, yang peting aku bisa mencari uang sendiri dan bisa membuktikan pada ibu bahwa aku bisa.
***
Tidak terasa air mataku mengalir mendengar cerita dari fahtimah, ternyata ada orang yang lebih menderita dibandingku.
“Fathimah, kamu yang sabar ya, In Sya Allah akan selalu bersamamu. Berdoalah semoga hatimu bisa tenang dan bisa menerima semua kejadian ini” Jawabku
“Ia ukhti, In Sya Allah. Dan terimakasih kamu sudah mau mendengarkan ceritaku ini. Jangan kamu jadikan beban” Jawab Fahtimah dengan suara terbata-bata.
“ia tidak lah Fathimah ini merupakan pelajaran bagiku dan kamu agar kelak jika qta menjadi seorang ibu, bisa lebih baik” Jawabku.
“Semua ini pasti ada hikmahnya Fathimah, Allah sayang padamu, Allah mencoba kesabaranmu. Dengan ini kamu juga bisa mandiri tidak tergantung pada orang tua. Dengan hal ini kamu juga bisa mengambil contoh dari ibumu, jika kelah kamu menjadi seorang ibu”Tegasku.
“ia ukhti. Semoga qta bisa menjadi ibu yang sholehah, yang bisa membimbing anak-anak qta kelak. Dan semoga kita bisa bertemu lagi dengan cerita lain dan nuasa yang berbeda” Jawab Fahtimah dengan senyum.
“Aamiin ya robbb” Jawabku.




PERJALANAN SEORANG ANAK MENCAPAI CITA-CITA

Biaya pendidikan di kota ini sangat mahal, makin tahun makin mahal.  Alhamdulillah aku dikampus ini mendapatkan beasiswa penuh sampai selesai tanpa biaya apapun kecuali biaya hidup bayar sendiri. Dari beasiswa ini aku merasakan kegembiraan dan kesedihan, bahagia karena bisa mengurangi beban orang tua dan juga merasa sedih, karena belum bisa apa-apa. Aku kuliah tanpa bekal apapun hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Aku sering bertanya pada diri  saya sendiri.
“mengapa saya bisa diterima dikampus ini, padahal aku belum mempunyai bekal apa pun?”.
Tapi dengan ini aku bisa mengambil pelajaran dari pengalaman yang aku hadapi selama kuliah dan berada didaerah orang lain, bahwa eseorang bisa diterima di Universitas tidak harus mempunyai bekal yang sangat tinggi, tetapi juga butuh motivasi dan keinginan dari kita sendiri. Dan  karena semua ini adalah kehendak dan rencana Allah.
Suatu saat aku di ajak jalan-jalan sama aba, untuk melihat Universitas di Bogor, yang tidak jauh dari kampus kakakku. Tiba aku dan aba di suatu kampus yang bernama STEI Tazkia yang letaknya di Dramaga Bogor. Ketemulah ayah dengan salah satu dosen dan merekan gobrol-ngobrol. Tanpaku  duga dosen itu berkata.
“Adek langsung masuk aja di kampus ini”, kata salah satu dosen.
Beneran pak??? Kataku.
Ia benar dek” jawab dosen
Betapa bahagianya saya bisa diterima di kampus Tazkia, tanpa bekal apa pun, karena saya hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) apalagi saya masuk d kampus tazkia tanpa tes, tidak seperti mahasiwa lainnya, mereka harus tes dan ikut beberapa kegiatan, sedangkan aku tidak.
 Pertama aku masuk tazkia keesokannya langsung kuliah. Ketika aku sudah mengikuti perkuliahan cobaan demi cobaan datang menghampriku, mulai dari pelajaran yang belum bisa sampai makian dari teman-teman, tapi aku mencoba untuk sabar dan tabah dalam menghadapi semua ini. Karena aku pingin membuktikan bahwa bukan semua orang yang mempunyai bekal dan pandai yang berhasil, akan tetapi orang yang tidak mempunyai bekal dan pas-pasan juga bisa berhasil.
Hari demi hari kulewati dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Di suatu saat aku mau mengerjakan tugas dari dosen, ketika itu aku bertanya sama teman kamar aku bagaimanacaranya, betapa kagetnya aku, ketika temanku berkata,
“ Masak Cuma seperti ini kamu tidak tahu, padahal ini gampang, kamu itu mondok dimana sich kok tidak tahu apa-apa”. Kata salah satu teman sekamarku.
Takterasa air mataku mengalir dengan sendirinya, Ya Allah berilah kesabaran dan ketabahan kepada hamba dalam mengahadapi semua ini, berilah teman hamba tidak seperti apa yang hamba alami sekarang”. Inilah kata-kata yang muncul ketika aku mendengar kata-kata dari teman sekamarku.
Tibalah pada pelajaran yang paling aku benci dan yang belum aku bisa meski sebelum aku kulian aku sempat belajar sebentar. Waktu itu pelajarannya Bahasa Inggris sama dosen kita disuruh kenalan pakek bahasa inggris dan disuruh maju kedepan, ketika itu aku mulai takut dan tidak percaya diri. Tibalah pada giliranku untuk memperkenalkan diriku, betapa malunya aku ketika ditanya, tapi aku tidak faham apa yang ditanyakan dosen kepadaku, sungguh bodohnya aku. Dari itu aku tidak percaya diri dan tidak PD.
Setiap hari sehabis pulang kuliah pasti kerjaanku menangis, karena aku merasa tidak mampu dalam pelajaran dikampus, aku terus menguluh dan mengadu kepada orang tua, mungkin orang tuaku bisa memberiku semangat. Dan setiap aku dimaki-maki ataupun dikelas belum bisa, aku selalu sms pada orang tua untuk berhenti dari kampus, karena aku merasa tidak mampu dalam pelajarannya, tetapi ortuku tidak mengizinkan, karena sudah terlanjur masuk tazkia. Karena aku mintak berhenti tidak di perbolehkan, dari itu aku hanya bisa pasrah dan pasrah, karena aku percaya bahwa apa yang aku hadapi sekarang adalah kehendak Allah dan Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya melaikan Allah tahu bahwa hamba-Nya sanggup melewati cobaan tersebut. Meski cobaan terus datang aku tetap bersyukur karena semester demi semester nilaiku meningkat.
Tibalah pada semester tiga yang mana aku danteman-teman se angkatan harus pindah ke Tazkia yang ada di Sentul. Dan baru kali ini aku merasakan satu ruangan bersama ikhwan, meski tempat duduknya pisah, tapi aku merasa tidak enak dan tidak bebasa palagi teman-teman kelasaku pintar-pintar. Ada salah satu teman yang orangnya tidak mau dikalahkan sama orang lain, sampai-sampai diasering memaki saya, tapi saya tidak pernah menjauh dari dia meski dia sering memakiku, karena aku berpikir kalau tidak belajar dengan dia siapa lagi, soalnya hanya dia yang satu kontrakan denganku, sedangkan teman-teman se kelasku yang lain kontrakannya jauh. Sebut saja namanya Ami
Waktu itu aku pernah main di kamar ami, dan waktu itu juga aku membacabuku.
“ kamu tidak lulus ya, bahasa indonesianya? Baca bahasa indonesia saja kayak gitu, pantes bahasa inggrisnya tidak lulus”. Kata Ami
Betapa terkejutnya aku ketika dia bilang seperti itu, tapi apa salahnya sich kita belajar untuk mengetahuinya. Masih banyak makian dia kepadaku, tapi sama aku hanya di buat penyemangat. Aku heran, ketika aku faham tentang pelajaran misalkan, Managemen Keuangan, ami seperti tidak terima, pernah aku belajar bareng ama dia, pas aku bilangin caranya bukan seperti itu, dia ngambek dan dia seperti marah. Ya begitulah kalau orang pintar. Maka dari itu aku bisa mengambil hikmah, Allah memberiku seperti ini atau pas-pasan agar aku itu tidak sombong dan aku harus saling mengerti satu sama lain. Karena aku lihat kebanyakan orang pintar itu sombong.
Meski aku kuliah tanpa modal, aku akan membuktikan kepada orang tua, keluarga dan teman-teman apalagi yang sering menghinaku, bahwa aku bisa melebihi mereka dan aku bisa menjadi wisudawan yang terbaik. Amin
***
Bulan Februari entah tanggal berapa aku lupa….hehehe… merupakan hari yang telah aku nanti-nanti selama berminggu-minggu aku tunggu,  yaitu pengumuman ter ACCnya judul skripsi yang aku ajukan dan Alhamdulillahnya judul aku di terima. Akan tetapi pada hari itu aku sangat sedih, aku berfikir aku tidak bisa menyelesaikan tugas akhirku, karna pada waktu itu aku sedang melaksanakan umroh selama satu bulan bersama keluarga sehingga aku mengaggap jatah menulis skripsi tertunda. Aku terus berfikir, aku tidak boleh berlarut dalan kesedihan karna dengan bersedih aku tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini. Pada waktu aku melaksanakan umroh tawaf dan sa’I aku menyempatkan diri untuk terus berdoa dan meminta pertolongan pada Allah agar aku bisa menyelesaikan tugas akhir tempat pada waktu yang telah ditentukan. Dan aku terus berdoa agar aku dapat pembimbing yang sabar, perhatian dan yang selalu memberiku semangat.
Bulan Februari entah tanggal berapa aku juga lupa….hehehe… pengumuman dosen pembimbing sudah ditentukan aku mendapat kabar dari teman bahwa aku mendapat dosen pembimbing Bapak Syamsul Hadi. Aku tidak tahu mana yang bapak Syamsul Hadi, karna sebelumnya aku belum pernah diajari oleh beliau. Karena bertepatan aku masih di Mekkah aku mengrim pesan lewat email dengan bapak syamsul yang merupakan nama panggilan dari Bapak Syamsul Hadi.
Sebenarnya aku tidak enak karena lewat email tapi apa boleh buat, rasa malu dan rasa tidak enak aku buang karna jika aku terus menrus mempunyai rasa itu tugas akhirku tidak akan selesai dan itu merupakan tugas dosen pembimbing dan juga aku. Alhamdulillahnya pak syamsul begitu merespon setiap email yang aku krim. Setiap email yang aku kirim pak syamsul selalu membalasnya. “ Ya Allah terimakasih engkau telah memberiku dosen pembibing yang begitu pengertian” Dalam benakku. Selama aku pulang dari umroh sekitar satu minggu tugas akhir yang telah aku kerjakan aku kirim kepada pak syamsul untuk dikoreksi. Selama dirumah aku tidak tenang karena aku dihantui oleh rasa takut, takut tidak bisa menyelesaikan tugas akhir. Aku iri sama teman-teman, kerana di status mereka dan sms selalu mengenai tugas akhir. Sehingga rasa takut selalu menghantuiku. Akan tetapi rasa takut sedikit demi sedikit itu hilang dengan dukungan dan semangat dari orang tua
Bulan Maret aku sudah balek ke Bogor untuk menyusun tugas akhir. Dua hari setelah aku balek dari Madura ke Bogor tepatnya hari sabtu aku bertemu dengan pak syamsul untuk konsultasi mengenai tugas akhir. Akan tetapi pada hari itu aku bingung bagaimana cara konsultasi dan apa yang harus kukatakan, apalagi aku belum pernah ketemu dengan pak syamsul dan aku dengar-dengar dari teman-teman bahwa pak syamsul itu keras dan pelit nilai….he he he… Tapi…….. Ternyata apa yang di katakan teman-teman itu salah. Kok bisa ya??? Makanya jangan percaya dengan kata-kata orang sebelum melihat kebenarannya…. Pasti penasaran kan bagaimana sebenarnya pak syamsul itu…. Hehehe… ayooo Q-ta lanjutkan ceritanya…..
Entah tanggal berapa aku lupa tapi aku ingatnya itu hari Sabtu… hehehe… Aku konsultasi dengan pak syamsul yang merupakan hari pertamaku konsultasi. Di hari pertamaku konsultasi aku hanya menjelaskan menganai judul dan alur-alur mengenai tugas akhirku. Alhamdulillah di hari pertamaku ini konsultasi berjalan dengan lancar. Pak syamsul memintaku untuk datang dan konsultasi lagi pada hari sabtu minggu depan dengan membawa rujukan sesuai dengan judulku.
Setiap hari sabtu pak syamsul memintaku untuk datang konsultasi entah itu sudah selesai atau belum, agar apa yang telah aku kerjakan bisa mengetahui perkembangannya. Oh..Ia.. ada kata-kata yang pak syamsul katakan padaku yang terus aku ingat dan aku pegang kata-kata itu yaitu :
“ Saya berharap setiap perubahan yang antum tulis atau lakukan mengenai tugas akhir ini antum harus konsultasikan, agar tahu perkembagannya sampai mana”.
“ Jangan malas, kerjaannya mahasiswa tingkat akhir itu malas. Saya juga pernah jadi mahasiswa”.
“ Allah itu melihat atas usaha antum. Insya Allah antum akan dapatkan sesuai dengan usaha antum”.
“ Bersabar lebih utama bagi antum saat ini… Allah Maha Tahu atas segala yang antum usahakan”.
“ Keep Calm and research on”
Tidak hanya itu masih banyak kata-kata pak syamsul yang selalu mendorongku. Dengan kata-kata tersebut selalu mendorongku agar cepat menyelesaikan tugas akhir ini, sehingga tidak hanya hari sabtu aku datang menemui pak syamsul hampir tiga kali dalam satu minggu aku menemui beliau setiap hari senin, selasa dan sabtu.
Hari demi hari. Minggu demi minggu aku lalui dengan semangat dan senyuman. Capek, letih dan sebagainya hilang begitu saja ketika aku ingat harapan orang tua dan melihat tugas akhirku belum 100% selesai. Setiap senin, selasa dan sabtu aku selalu bertemu dengan pak syamsul untuk berkonsultasi mengenai tugas akhir.
Teman-teman mulai mendaftarkan diri untuk Seminar Proposal Skripsi, keinginan dan semangat semakin membara dalam diriku untuk menyusul teman-teman. Bulan April entah pada tanggal berapa aku memberanikan diri mendaftarkan Seminar Proposal Skripsi di samping itu juga aku mendapat dukungan dan semangat dari pak syamsul.
Semangat dan motivasi selalu aku dengar dari pak syamsul yang kata teman-teman menakutkan…hehehe.. padahal tidak. Pak syamsul orangnya baik, sabar ganteng lagi… he he he. Beliau begitu sabar dan selalu mendengarkan kesah keluhku selama aku bimbingan. Pernah suatu hari aku merasa minder dan malu pada teman-teman, karena aku sering konsultasi akan tetapi tidak selesai-selesai. Aku pun sms pada beliau yang isinya “ Pak maaf sebelumnya, bapak jangan merasa bosan selalu ketemu dengan saya. Jujur pak saya malu dan minder kepada teman-teman dan juga bapak, karena datang bolak-balek tidak selesai-selesai” apa coba jawaban dari pak syamsul….? Pak syamsul hanya menjawab “ Apa yang dikerjakan akan sesuai dengan hasil yang akan diterima, maka bersungguh-sungguhlah. Insya Allah”.
Oh ia…. Ini merupakan momen yang tidak bisa aku lupakan, karena dengan salah satu cara ini aku bisa menyelesaikan tugas akhir tepat waktu bahkan diantara teman-teman seangkatanku akulah pertama menyerahkan Bindingan skripsi (bukan sombong tapi merupakan pelajaran untuk diriku…he he he…) waktu aku sudah satu bulan daftar Seminar Proposal Skripsi tetapi belum juga di panggil, akhirnya pak syamsul menyuruhku untuk sambil penelitian agar cepat selesai toh….. entah kapan di panggil bisa saja bulan depan.
Akhirnya aku pun memulai penelitian dan mengutak-atik data. Hari demi hari aku lalui hanya di depan Net Book, sambil aku latihan untuk persiapan seminar sampai aku bosan latihan. Hingga akhirnya aku memutuskan mendaftakan diri untuk ujian Komprehensif dan ujian Tahfidz kebutulan ada teman yang ngajak. Eh… ternyata... pas aku lihat di Grup yang di panggil duluan ujian tahfidz dan komprehensif…kecewa deh aku…. Ya udah lah mungkin ini yang terbaik untukku agar aku bisa fokus dengan penelitian nantik. Alhamdulillah ujian tahfidz dan ujian komprehensif lulus meski persiapannya kurang dibanding persiapan untuk seminar.
Entah tanggal berapa tapi seingat aku bulan april panggilan yang aku tunggu-tunggu ternyata datang juga. Kalau tidak salah hari itu hari senin aku seminar. Hari ini aku gembira dan senang sekali, akan tetapi pada waktu sesi pertanyaan aku merasa terharu dan sedih mendengar kata-kata dari pak syamsul. Aku hampir meneteskan air mata akan tetapi aku tahan takut akan mengganggu persentasiku. Selama hampir empat tahun baru kali ini aku mendapat sanjungan atau pujian yang membuatku semangat biasanya hanya makian. Pak syamsul berkata “ Saya sangat apresiasi sama Aisyah karena semangatnya, hampir empat kali dalam satu minggu dia bertemu saya. Semoga teman-temannya termotivasi dengan Aisyah”. Mendengar kata-kata tersebut aku tidak mampu menahan air mata. Aku ingat masa-masa dimana aku di ejek-ejek sama teman-teman karena keterbatasanku. Tapi aku selalu berkeinginan akan membuktikan bahwa aku juga bisa melebihi mereka. Aku tidak seperti yang mereka kira.
“ Kesuksesan tidak hanya dilihat dari kepintaran dan kecerdasan Q-ta. Pintar dan cerdas  tapi tidak mau berbagi, tidak tahu menempatkan itu sama saja. Kesuksesan akan di raih jika Q-ta bersungguh-sungguh. Bukan hasil yang dilihat oleh Allah, akan tetapi usahalah yang akan dilihat. Keberhasilah akan sesuai dengan usaha yang Q-ta lakukan”. Ini merupakan kata-kata yang selalu menjadi pendorongku.
Hingga akhirnya dengan semangat dan dorongan dari orang tua terutama pak syamsul yang ku anggap orang tua selama ada di bogor, karena beliau telah membantu, memberi semangat dan memotivasi selama aku menyelesaikan tugas akhir, aku dapat menyelesaikan tugas akhirku tepat waktu dan sesuai harapanku yaitu satu minggu sebelum lebaran ‘Idul Fitri aku bisa Sidang Skripsi.
***
Detik-detik akan Sidang Skripsi aku takut… takut tidak lulus dan sebagainnya. Tapi mau tidak mau harus aku hadapi. Setiap aku persentasi aku takut mengecewakan pak syamsul, tidak sesuai dengan harapan pak syamsul akan tetapi aku harus hadapi, karena memang kelemahanku ketika persentasi gerogi. Meski sudah latihan berapa kali di kosan sampai di depan dosen selalu gerogi. Mungkin selama ini aku belum pernah bertatap muka dengan ikhwan. Aku akui beru kali ini aku bertatap muka atau bertemu langsung dengan ikhwan yaitu dosen pembimbing.
Kehidupan kampus terkadang menyenangkan, tetapi ada kalanya membosankan. Setiap hari berpacu melawan waktu dan kemampuan diri untuk memecahkan tugas-tugas, praktikum, belajar menjelang ujian, dan hal-hal lain. Terlebih ketika di masa-masa akhir semester, banyak teman-teman yang mengeluh karena ujian semakin dekat, di lain sisi banyak tugas-tugas akhir yang datang di saat bersamaan. Tak jarang yang harus rela menjejakkan kaki-kaki mereka seharian di kampus untuk berbagi dan bekerja bersama menyelesaikan semua itu.
Tak sedikit di antara mereka yang selalu semangat dan berjuang menyelesaikan tugas-tugas itu. Tetapi tak jarang pula ada yang kurang aktif dalam menanggapi semua itu. Entah karena mereka mudah menyerah, sudah tidak bernafsu kuliah,  atau karena hal-hal yang lain.
Aku sangat bersyukur dan bersyukur mendapatkan dosen pembimbing seperti pak syamsul. Pak syamsul begitu baik, sabar, disiplin dan tidak pernah bosan. Setiap aku mengeluh beliau selalu memberi dukungan dan motivasi yang mebuatku selalu semangat. Hal yang tidak pernah aku lupakan setiap aku di suruh mencari referensi beliau selalu menyuruhku mencari kebenarannya terlebih dahulu entah itu buku aslinya atau PDFnya. Bagaimana caranya aku membalas budi baik pak syamsul. Aku hanya bisa berdoa agar beliau selalu diberi kesehatan dan selalu dalam lindungan dan ridho Allah.
Selang beberapa tahun kemudian tibalah waktu yang aku tunggu-tunggu, yaitu pengumuman kelulusan, betapa terkejutnya ketika nama aku di sebut. Tidak terasa air mataku mengalir dengan sendirinya, inilah hasil perjuanganku selama ini, ternyata sebuah perjuangan itu tidak akan sia-sia. Allah tidak akan melihat hasil kita, tetapi Allah melihat seberapa besar perjuangan kita itulah hasil kita. Tidak hanya itu kebahagian datang ketika aku wisuda ternyata apa yang aku inginkan tercapai, yaitu menjadi wisuda terbaik. Akhirnya aku bisa membuktikan kepada orang tua, keluarga dan teman-teman bahwa aku bisa melebihi mereka, dan aku bisa menyatakan meski kita mempunyai bekal sedikit kita pasti bisa.
***
Aku sangat bersyukur dan bersyukur dilahirkan dari orang tua yang selalu sabar mendidikku. Dibalek semua keberhasilan yang aku raih selama empat tahun aku berada di kota orang lain, ada orang yang membuat aku bisa menyelesaikan kuliyah ini yaitu tidak luput adalah orang tuaku sendiri yang begitu sabar mendengarkan keluh kesahku. Aku tidak tahu bagaimana caranya membalas jasa beliau. Selama empat tahun aku hanya bisa menyusahkan beliau, entah apakah selama empat tahun ini aku bisa membahagiakan beliau. Beliau rela bangun malam untuk selalu mendoakanku.
Setiap aku mengeluh, setiap aku tidak mampu dengan pelajaran yang aku hadapi, setiap putus asa datang, beliau selalu memberi kesempatan untuk memberi nasehat dan motivasi. Setiap uang bulananku habis kadang kala aku marah, tapi beliau tidak pernah marah padaku. Sungguh aku sangat berdosa dan sangat berjasa pada beliau. Ketika aku mengingat semua apa yang aku lakukan selama emapt tahun ini terhadap orang tuaku, ingin rasanya aku mengulang kembali. Tapi bagaimana caranya semua tidak bisa diputar kembali, hanya dengan semua kejadian ini aku bisa mengambil pelajaran agar tidak bisa terulang kembali.
Kadang kala aku berfikir apakah ilmuku nanti bermanfaat, sedangkan dosa yang aku perbuat terhadap ummi dan aba banyak? Aku beharap ummi dan aba memaafkan kesalahanku. Apa yang aku lakukan nanti ketika aku selesai wisuda. Aku bingung dan ragu. Apakah aku bisa membantu ummi dan aba? Sungguh bodoh anakmu ini.
Ummi dan Aba engkau selalu mengajariku arti sebuah kesabaran. Engkau selalu memberiku semangat. Ummi dan Aba maafkan semua kesalahan anakmu. Aku tidak bisa membalas jasamu. Aku tidak memberi apapun, hanya bisa memberi tulisan yang berisi perjalananku selama empat tahun jauh darimu.

***


Bekal sedikit bukan alasan untuk tidak mencapai cita-cita justru Insya Allah dengan bekal sedikit kita bisa menjadi yang terbaik asalkan kita mau bekerja keras, semangat, sabar, tabah dan tawakal. Semua hanya Allah yang tahu, kita tidak tahu takdir Allah.
Pantaskah kita Mengeluh...?
            Ketika kita mengeluh : “Ah mana mungkin.....”Allah menjawab : “Jika AKU menghendaki,cukup Ku berkata “Jadi”,maka jadilah (QS. Yasin ; 82)
Ketika kita mengeluh : “Capek banget gw....”Allah menjawab : “...dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat.” (QS.An-Naba :9)
Ketika kita mengeluh : “Berat banget yah,gak sanggup rasanya...”Allah Azza Wa Jalla menjawab : “AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai kesanggupan.” (QS. Al-Baqarah : 286)
Ketika kita mengeluh : “Stressss nih...Panik...”Allah Azza Wa Jalla menjawab : “Hanya dengan mengingatku hati akan menjadi tenang”. (QS.Ar-Ro’d :28)
Ketika kita mengeluh : “Yaaaahh... ini mah semua bakal sia-sia..”Allah Azza Wa Jalla menjawab :”Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun,niscaya ia akan melihat balasannya”. (QS. Al-Zalzalah :7)
Ketika kita mengeluh : “Gile aje..gw sendirian..gak ada seorangpun yang mau bantuin...”Allah menjawab : “Berdoalah (mintalah) kepadaKU,niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60)
Ketika kita mengeluh : “ Duh..sedih banget deh gw...” Allah menjawab : “La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita:. (QS. At-Taubah :40)
kita semua yang mulai galau atas perhatian Allah yangg serasa jauh dari kita padahal sebaliknya Allah dekat selalu (QS. Al-Baqarah 186).
Itulah kata-kata yang menjadi semangatku....

KEHIDUPAN


Hidup penuh perjuangan
Berjuang dalam mencapai masa depan
Kehidupan memang perlu yang namanya perjuangan
                        Jik kita percaya dengan kehidupan
Kita harus siap berjuang
Kita harus siap menghadapi rintangan
Jangan pernah ada kata menyerah
Jangan pernah ada kata berhenti
Menyerah dan berhenti merupakan pantangan dalam kehidupan
                        Kita jangan pernah terlena dalam keberhasilan
                        Kita jangan pernah terbui dalam kenikmatan
                        Keberhasilan dan kenikmatan akan menghancuri kita
Kita harus terus berusaha
Meski keberhasilan dan kenikmatan sudah kita raih
Karena itu semua bukan milik kita
                        Hidup adalah perjuangan
Berjuang dengan semangat

Dengan kemauan yang besar
IBU

Ibu….
Betapa berjasanya aku padamu
Sembilan bulan aku berada dirahimmu
Kemana engkau pergi engkau selalu membawaku
                        Sungguh mulianya engkau wahai ibu
                        Engkau tidak pernah capek membawaku
                        Siang malam engkau selalu bersamaku
                        Ibu… Ibu.. Ibu…
Siang malam engkau selalu menjagaku
Engkau rela meluangkan waku demi anakmu ini
Bagaiman aku bisa membalas jasamu wahai ibu
Ibu…Ibu..Ibu..
                        Tidak ada wanita semulia engkau wahai ibu
                        Engkaulah wanita yang  aku sayangi
                        Ibu…Ibu…Ibu..
Aku hanya bisa mendoakanmu wahai ibu
اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرا

Amin…Amin…Ya Robbal Alamin
KEHENINGAN MALAM

Di keheningan malam aku  bersujud
Di keheningan malam aku  memohon
Di keheningan malam aku  menangis
                        Ya Allah… Ya Allah…
                        Betapa banyak dosa-dosa yang aku perbuat
                        Sungguh menyesalnya aku ini
Apakah engkau menerima tobatku ini ya Allah???
Betapa bodohnya aku ini
Apa yang aku lakukan selama ini???
                        Apa arti hidup bagiku sekarang
                        Dosa yang aku perbuat sungguh banyak
                        Sungguh bodoh..sungguh bodonya diriku ini
Ya Allah….
Ampunilah dosaku ini
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ




















PERJALANAN TUGAS AKHIR SEORANG MAHASISWA

Di Balik kesuksesan yang Q-ta raih
Ada orang yang membuat Q-ta sukses
Yaitu Orang Tua, Guru, Keluarga dan Teman

Bulan Februari entah tanggal berapa aku lupa….hehehe… merupakan hari yang telah aku nanti-nanti selama berminggu-minggu aku tunggu,  yaitu pengumuman ter ACCnya judul skripsi yang aku ajukan dan Alhamdulillahnya judul aku di terima. Akan tetapi pada hari itu aku sangat sedih, aku berfikir aku tidak bisa menyelesaikan tugas akhirku, karna pada waktu itu aku sedang melaksanakan umroh selama satu bulan bersama keluarga sehingga aku mengaggap jatah menulis skripsi tertunda. Aku terus berfikir, aku tidak boleh berlarut dalan kesedihan karna dengan bersedih aku tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini. Pada waktu aku melaksanakan umroh tawaf dan sa’I aku menyempatkan diri untuk terus berdoa dan meminta pertolongan pada Allah agar aku bisa menyelesaikan tugas akhir tempat pada waktu yang telah ditentukan. Dan aku terus berdoa agar aku dapat pembimbing yang sabar, perhatian dan yang selalu memberiku semangat.
Bulan Februari entah tanggal berapa aku juga lupa….hehehe… pengumuman dosen pembimbing sudah ditentukan aku mendapat kabar dari teman bahwa aku mendapat dosen pembimbing Bapak Syamsul Hadi. Aku tidak tahu mana yang bapak Syamsul Hadi, karna sebelumnya aku belum pernah diajari oleh beliau. Karena bertepatan aku masih di Mekkah aku mengrim pesan lewat email dengan bapak syamsul yang merupakan nama panggilan dari Bapak Syamsul Hadi.
Sebenarnya aku tidak enak karena lewat email tapi apa boleh buat, rasa malu dan rasa tidak enak aku buang karna jika aku terus menrus mempunyai rasa itu tugas akhirku tidak akan selesai dan itu merupakan tugas dosen pembimbing dan juga aku. Alhamdulillahnya pak syamsul begitu merespon setiap email yang aku krim. Setiap email yang aku kirim pak syamsul selalu membalasnya. “ Ya Allah terimakasih engkau telah memberiku dosen pembibing yang begitu pengertian” Dalam benakku. Selama aku pulang dari umroh sekitar satu minggu tugas akhir yang telah aku kerjakan aku kirim kepada pak syamsul untuk dikoreksi. Selama dirumah aku tidak tenang karena aku dihantui oleh rasa takut, takut tidak bisa menyelesaikan tugas akhir. Aku iri sama teman-teman, kerana di status mereka dan sms selalu mengenai tugas akhir. Sehingga rasa takut selalu menghantuiku. Akan tetapi rasa takut sedikit demi sedikit itu hilang dengan dukungan dan semangat dari orang tua
Bulan Maret aku sudah balek ke Bogor untuk menyusun tugas akhir. Dua hari setelah aku balek dari Madura ke Bogor tepatnya hari sabtu aku bertemu dengan pak syamsul untuk konsultasi mengenai tugas akhir. Akan tetapi pada hari itu aku bingung bagaimana cara konsultasi dan apa yang harus kukatakan, apalagi aku belum pernah ketemu dengan pak syamsul dan aku dengar-dengar dari teman-teman bahwa pak syamsul itu keras dan pelit nilai….he he he… Tapi…….. Ternyata apa yang di katakan teman-teman itu salah. Kok bisa ya??? Makanya jangan percaya dengan kata-kata orang sebelum melihat kebenarannya…. Pasti penasaran kan bagaimana sebenarnya pak syamsul itu…. Hehehe… ayooo Q-ta lanjutkan ceritanya…..
Entah tanggal berapa aku lupa tapi aku ingatnya itu hari Sabtu… hehehe… Aku konsultasi dengan pak syamsul yang merupakan hari pertamaku konsultasi. Di hari pertamaku konsultasi aku hanya menjelaskan menganai judul dan alur-alur mengenai tugas akhirku. Alhamdulillah di hari pertamaku ini konsultasi berjalan dengan lancar. Pak syamsul memintaku untuk datang dan konsultasi lagi pada hari sabtu minggu depan dengan membawa rujukan sesuai dengan judulku.
Setiap hari sabtu pak syamsul memintaku untuk datang konsultasi entah itu sudah selesai atau belum, agar apa yang telah aku kerjakan bisa mengetahui perkembangannya. Oh..Ia.. ada kata-kata yang pak syamsul katakan padaku yang terus aku ingat dan aku pegang kata-kata itu yaitu :
“ Saya berharap setiap perubahan yang antum tulis atau lakukan mengenai tugas akhir ini antum harus konsultasikan, agar tahu perkembagannya sampai mana”.
“ Jangan malas, kerjaannya mahasiswa tingkat akhir itu malas. Saya juga pernah jadi mahasiswa”.
“ Allah itu melihat atas usaha antum. Insya Allah antum akan dapatkan sesuai dengan usaha antum”.
“ Bersabar lebih utama bagi antum saat ini… Allah Maha Tahu atas segala yang antum usahakan”.
“ Keep Calm and research on”
Tidak hanya itu masih banyak kata-kata pak syamsul yang selalu mendorongku. Dengan kata-kata tersebut selalu mendorongku agar cepat menyelesaikan tugas akhir ini, sehingga tidak hanya hari sabtu aku datang menemui pak syamsul hampir tiga kali dalam satu minggu aku menemui beliau setiap hari senin, selasa dan sabtu.
Hari demi hari. Minggu demi minggu aku lalui dengan semangat dan senyuman. Capek, letih dan sebagainya hilang begitu saja ketika aku ingat harapan orang tua dan melihat tugas akhirku belum 100% selesai. Setiap senin, selasa dan sabtu aku selalu bertemu dengan pak syamsul untuk berkonsultasi mengenai tugas akhir.
Teman-teman mulai mendaftarkan diri untuk Seminar Proposal Skripsi, keinginan dan semangat semakin membara dalam diriku untuk menyusul teman-teman. Bulan April entah pada tanggal berapa aku memberanikan diri mendaftarkan Seminar Proposal Skripsi di samping itu juga aku mendapat dukungan dan semangat dari pak syamsul.
Semangat dan motivasi selalu aku dengar dari pak syamsul yang kata teman-teman menakutkan…hehehe.. padahal tidak. Pak syamsul orangnya baik, sabar ganteng lagi… he he he. Beliau begitu sabar dan selalu mendengarkan kesah keluhku selama aku bimbingan. Pernah suatu hari aku merasa minder dan malu pada teman-teman, karena aku sering konsultasi akan tetapi tidak selesai-selesai. Aku pun sms pada beliau yang isinya “ Pak maaf sebelumnya, bapak jangan merasa bosan selalu ketemu dengan saya. Jujur pak saya malu dan minder kepada teman-teman dan juga bapak, karena datang bolak-balek tidak selesai-selesai” apa coba jawaban dari pak syamsul….? Pak syamsul hanya menjawab “ Apa yang dikerjakan akan sesuai dengan hasil yang akan diterima, maka bersungguh-sungguhlah. Insya Allah”.
Oh ia…. Ini merupakan momen yang tidak bisa aku lupakan, karena dengan salah satu cara ini aku bisa menyelesaikan tugas akhir tepat waktu bahkan diantara teman-teman seangkatanku akulah pertama menyerahkan Bindingan skripsi (bukan sombong tapi merupakan pelajaran untuk diriku…he he he…) waktu aku sudah satu bulan daftar Seminar Proposal Skripsi tetapi belum juga di panggil, akhirnya pak syamsul menyuruhku untuk sambil penelitian agar cepat selesai toh….. entah kapan di panggil bisa saja bulan depan.
Akhirnya aku pun memulai penelitian dan mengutak-atik data. Hari demi hari aku lalui hanya di depan Net Book, sambil aku latihan untuk persiapan seminar sampai aku bosan latihan. Hingga akhirnya aku memutuskan mendaftakan diri untuk ujian Komprehensif dan ujian Tahfidz kebutulan ada teman yang ngajak. Eh… ternyata... pas aku lihat di Grup yang di panggil duluan ujian tahfidz dan komprehensif…kecewa deh aku…. Ya udah lah mungkin ini yang terbaik untukku agar aku bisa fokus dengan penelitian nantik. Alhamdulillah ujian tahfidz dan ujian komprehensif lulus meski persiapannya kurang dibanding persiapan untuk seminar.
Entah tanggal berapa tapi seingat aku bulan april panggilan yang aku tunggu-tunggu ternyata datang juga. Kalau tidak salah hari itu hari senin aku seminar. Hari ini aku gembira dan senang sekali, akan tetapi pada waktu sesi pertanyaan aku merasa terharu dan sedih mendengar kata-kata dari pak syamsul. Aku hampir meneteskan air mata akan tetapi aku tahan takut akan mengganggu persentasiku. Selama hampir empat tahun baru kali ini aku mendapat sanjungan atau pujian yang membuatku semangat biasanya hanya makian. Pak syamsul berkata “ Saya sangat apresiasi sama Aisyah karena semangatnya, hampir empat kali dalam satu minggu dia bertemu saya. Semoga teman-temannya termotivasi dengan Aisyah”. Mendengar kata-kata tersebut aku tidak mampu menahan air mata. Aku ingat masa-masa dimana aku di ejek-ejek sama teman-teman karena keterbatasanku. Tapi aku selalu berkeinginan akan membuktikan bahwa aku juga bisa melebihi mereka. Aku tidak seperti yang mereka kira.
“ Kesuksesan tidak hanya dilihat dari kepintaran dan kecerdasan Q-ta. Pintar dan cerdas  tapi tidak mau berbagi, tidak tahu menempatkan itu sama saja. Kesuksesan akan di raih jika Q-ta bersungguh-sungguh. Bukan hasil yang dilihat oleh Allah, akan tetapi usahalah yang akan dilihat. Keberhasilah akan sesuai dengan usaha yang Q-ta lakukan”. Ini merupakan kata-kata yang selalu menjadi pendorongku.
Hingga akhirnya dengan semangat dan dorongan dari orang tua terutama pak syamsul yang ku anggap orang tua selama ada di bogor, karena beliau telah membantu, memberi semangat dan memotivasi selama aku menyelesaikan tugas akhir, aku dapat menyelesaikan tugas akhirku tepat waktu dan sesuai harapanku yaitu satu minggu sebelum lebaran ‘Idul Fitri aku bisa Sidang Skripsi.
Detik-detik akan Sidang Skripsi aku takut… takut tidak lulus dan sebagainnya. Tapi mau tidak mau harus aku hadapi. Setiap aku persentasi aku takut mengecewakan pak syamsul, tidak sesuai dengan harapan pak syamsul akan tetapi aku harus hadapi, karena memang kelemahanku ketika persentasi gerogi. Meski sudah latihan berapa kali di kosan sampai di depan dosen selalu gerogi. Mungkin selama ini aku belum pernah bertatap muka dengan ikhwan. Aku akui beru kali ini aku bertatap muka atau bertemu langsung dengan ikhwan yaitu dosen pembimbing.
Kehidupan kampus terkadang menyenangkan, tetapi ada kalanya membosankan. Setiap hari berpacu melawan waktu dan kemampuan diri untuk memecahkan tugas-tugas, praktikum, belajar menjelang ujian, dan hal-hal lain. Terlebih ketika di masa-masa akhir semester, banyak teman-teman yang mengeluh karena ujian semakin dekat, di lain sisi banyak tugas-tugas akhir yang datang di saat bersamaan. Tak jarang yang harus rela menjejakkan kaki-kaki mereka seharian di kampus untuk berbagi dan bekerja bersama menyelesaikan semua itu.
Tak sedikit di antara mereka yang selalu semangat dan berjuang menyelesaikan tugas-tugas itu. Tetapi tak jarang pula ada yang kurang aktif dalam menanggapi semua itu. Entah karena mereka mudah menyerah, sudah tidak bernafsu kuliah,  atau karena hal-hal yang lain.
Aku sangat bersyukur dan bersyukur mendapatkan dosen pembimbing seperti pak syamsul. Pak syamsul begitu baik, sabar, disiplin dan tidak pernah bosan. Setiap aku mengeluh beliau selalu memberi dukungan dan motivasi yang mebuatku selalu semangat. Hal yang tidak pernah aku lupakan setiap aku di suruh mencari referensi beliau selalu menyuruhku mencari kebenarannya terlebih dahulu entah itu buku aslinya atau PDFnya. Bagaimana caranya aku membalas budi baik pak syamsul. Aku hanya bisa berdoa agar beliau selalu diberi kesehatan dan selalu dalam lindungan dan ridho Allah.

Pak syamsul aku tidak akan melupakan jasa-jasamu selama ini, terimakasih dan beribu terimkasih. Engkau telah membantuku dan selalu memberiku motivasi. Akanku ingat selalu nasehatmu, ilmu yang ku dapat selama belajar denganmu tidak hanya berguna selama aku di STEI TAZKIA akan tetapi ilmu yang ku dapat darimu akan bergunan bagi masa depanku. Engkau mengajariku dalam hal selalu ingat pada Allah bahwa Allah selalu melihat dan mengawasiku. Engakau mengajariku bagaiamana konsisten, disiplin dan kometmen. Engkau mengajariku untuk selalu mencari kebenaran. Engakau mengajari bersabar. Dan masih banyak hal kebaikan yang kau ajari kepadaku. Aku berharap engkau tidak melupakan mahasiswamu ini.