07-12-2011
Rabu sore tepatnya
pukul 16.30 WIB, seorang mahasiswi pulang dengan pakaian yang basah kuyup.
Hujan deras dan petir yang menggelegar menemani langkahnya, peristiwa alam ini
biasa dia hadapi di kota berjuluk Kota Hujan alias Kota Bogor. Hal itu dia
abaikan, dia terpaksa pulang karena
belum shalat ‘asar.Mata kuliah yang cukup padat hari itu dan kerja
kelompok di kampus membuatnya tak dapat menunaikan kewajiban shalat awal waktu.
Dalam perjalanan pulang,
dia sangat gembira karena tugasnya yang selama ini menumpuk mulai berkurang.
Dia berencana malamini akan menyelesaikan
tugas artikel mata kuliah Fiqh Mawarits yang harus dia kumpulkan sebelum hari
Minggu ini.
Setelah sholat, dia
mencoba membuka notebook yang dipinjam dari Bibinya.Tiba-tiba,
“Haaa…
mana dataku?”, kata Afi.
Dia
berkata dalam hatinya, “ Ya Allah cobaan apa lagi yang Engkau berikan kepadaku?.
Semoga
data-dataku tidak hilang. Ya Robb, tolong...”.
Dia membuka semua folder
yang ada di notebooknya itu satu persatu. Dia perhatikan baik-baik setiap judul
file yang ada. Sambil terus berdo’a semoga file tugasnya tidak hilang. Setelah tiga
kali dia cek tiap file, barulah dia yakin datanya benar-benar hilang. Ialemas
dan tidak mempunyai semangat lagi untuk mengerjakan tugasnya.Dengan wajah
sangat memelas, diamematikannotebook itu untuk menenangkan hatinya yang sedang
gundah.
Dia terus merenungi nasibnya,
notebook yang dia pinjam harus dikembalikan 2 hari yang akan datang. Dia khawatir tugasnya
tidak bisa diselesaikan sebelum itu.
“Ya Allah, kalau
tugasku belum selesai, bagaimana aku mengerjakannya?Laptop ini harus hamba
kembalikan keBibi.Tak mungkin hamba terus-terusan merepotkan Bibi dengan
meminjamnya”,kata Afi sambil menangis.
Afi berkata lagi,
“Seandainya notebook ini punyaku tidak mungkin keadaanku seperti ini, penuh
dengan gelisah dan emosi”.
Sebelum berangkat kuliah
tadi pagi dia membayangkan tugas artikelnya selesai hari ini.Tapi yang
tertinggal sekarang hanyalah kenyataan.Dia terus berusaha untuk bersabar dan
tabah, walaupun hatinya penuh dengan perasaan kecewa.Dia terus merenungkan nasibnya. Tiba-tiba dia melihat papan
tulis di tembok kamarnya. Dia membaca sebuah tulisan yang sangat mencolok :
“Kapan
aku bisa punyalaptop atau notebook?”. Itulah tulisan yang ditulisnya
pada bulan Oktober, ditulis dengan huruf kapital untuk memompa semangatnya.
Sejak masuk kuliah Afi ingin
punya laptop, tapi orang tuanya di Madura tidak mengizinkan.Entah apa alasan
orang tuanya tidak membolehkan.Padahal saat ini, laptop adalah benda penting terutama
bagi orang yang sedang kuliah, seperti dirinya. Dia sempat berfikiruntuk
mencari pekerjaan yang hasilnya akan dia tabung untuk membeli notebookatau laptop.
Tapi keinginan itu mustahil, karena kedua orang tuanya tidak berkenan.Sejak
keinginannya tidak tercapai.Afihanya bisamencoba
untuk sabar dan tabah dalam menghadapi semua ini.
“Apakah
ini adalah sebuah tanda bahwa Allah sayang
padaku?. Aku yakin dibalik semua ini pasti ada hikmahnya, dan aku yakin
dimana ada kesulitan maka disitu ada kemudahan”. Kata-kata inilah yang terus
mendorong Afi untuk menerima semua ini.
***
Suatu
hari Afi pernah mendapat tugas kelompok. Saat itu dia ajak teman kelompoknya
untuk mengerjakan tugasnya di perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan, dia hanya
bengongsaja melihat teman-temannya
sibuk mengutak-atik tugas di depan laptop mereka.Dia menoleh kiri-kanan, hampir
semua temannya membawa laptop.Hanya dirinya saja yang tidak membawa. Timbullah
pertanyaan dipikiran Afi yang tidak asing lagi.
“Kapan
aku bisa punya laptop atau notebook?”, pertanyaan yang selalu muncul dibenak Afi
ketika dia sangat membutuhkan laptop atau notebook.
Setiap ada tugas, ia
harus menunggu teman tetangga kamarnya pulang. Apalagi kalau bukan untuk
meminjam laptop.Dari situlah dia bisa mengerjakan tugasnya. Meski terhambat
menyelesaikan tugasnya, ia tetap semangat. Tak dipedulikannya keterbatasan fasilitas.
***
Artikelnya yang hilang
adalah tugas dari dosen Fiqh Mawarits.Artikel itu harus dikumpulkan pada pertemuan
ke 13 bertepatan pada hari Minggu ini, tiga hari lagi. Pada saat mendengar
pemberian tugasitu, dia hanya bisa tersenyum simpul sambil bertanya-tanya
bagaimana cara dia mengerjakannya.Saat itu temannya yang biasa dipinjami
laptopnya sedang pulang ke kampung halaman dan kembali dua minggu kemudian.
Dia terus memohon
kepada Allah agar dimudahkan segala urusannya yang berhubungan dengan kebaikan.
Beberapa hari kemudian Allah mendengar doaAfi.
”Ah…. Aku coba pinjam Bibiku,
siapa tahu sedang nganggur?!”.Akhirnya
dia mencoba sms bibinya. Bibi dari ibunya yang sudah bermukim di Bogor karena
ikut sang suami.
“Alhamdulillah,
terimakasih ya Allah, akhirnya hamba bisa pinjam notebook”, kata Afi dengan
nada penuh gembira ketika bibinya membolehkan meminjam notebooknya selama dua
minggu.
***
Hari Selasa lalu bertetapan
dengan tanggal 25 November, salah satu teman kelompoknya memintanya menulis
ayat Al-Qur’an untuk makalah.Kebetulan notebookyang Afi pinjam dari bibinya ada
teks Al-Qur’an.
“Afi, tolong kamu ketik
ayat Al-qur’annya ya?”, kata salah satu temannya.
‘’Baik Insya Allah”,
Afi menyanggupi.
Ketika Afi pulang dari
kampus, dia mencoba membuka makalah yang sudah dibuat oleh temannya.Betapa
terkejutnya dia, ternyata isi makalah tersebut belum selesai.Bagian daftar isi,
penutup, dan perlu di-edit-edit.Dia bingung, karena makalah itu harus selesai
keesokan paginya.
“Ya Allah, seandainya
saya tidak pinjam notebookBibi, apa yang akan terjadi besok?”, kata Afi dengan
nada sedih.Diselesaikannya tugas makalah itu kemudian sambil tak putus
bersyukur karena ada kemudahan saat itu.
***
Mengetahui artikel Fiqh
Mawarits-nya hilang, Afi hanya bisa merenung, melamun hingga akhirnya dia
tertidur dalam lamunannya.
Drrrt…..Drrrt…..Drrrt,
terdengarlah suara alarm dari Hpnya. Alarm menunjukkan angka 02.00 malam, jam
yang telah dipasang Afi setiap harinya.Afi pun bangun dari tidurnya yang sangat
nyenyak untuk melaksanakan sholat malam dan membaca Al-Qur’an.Setelah membaca Al-Qur’an,
Afi sahur.Malam itu bertepatan dengan malam Kamis. Afi selalu melakukan puasa
sunnahSenin Kamis. Tiba-tiba ditengah dia makan dia teringat akan janji orang
tuanya, bahwasanya jika putra-putrinya bisa membuat novel atau cerpen maka akan
diberi hadiah notebookatau laptop.
Timbullah keinginannya untuk
membuat cerpen agar bisa mendapatkan laptop atau notebook.
Tapi dia
bertanya-tanya, “Bagaimana caranya agar aku bisa membuatnya?” .Pertanyaan itu
terus menggema di pikirannya.
Jam menunjukkan jam
04.00, tibalah saatnya dia mandi. Di pertengahan mandi, dia memikirkan lagi, “Bagaimana
caranya agar aku bisa menulis cerpen atau novel?”.
Afi teringat sebuah coretan
yang pernah dia tulis.Dia pun berencana meneruskannya menjadi sebuah cerpen
atau mungkin novel.
Dia berharap suatu saat
ketika dia bisa menulis cerpen atau novel, bisa dimuat di majalah atau koran.
Dia ingin membuktikan pada orangtua, keluarga dan teman-temannya bahwa dia bisa.Meski
pun dia hanya lulusan pondok pesantren.Ya, meski pun lulusan pondok pesantren dia
sangat bersyukur kepada Allah. Meski pun lulusan pesantren tapi dia bisa
diterima di salah satu perguruan tinggi di Bogor. Entah apa kelebihannya hingga
dia bisa diterima untuk kuliah dengan modal lulusan pondok pesantren, pikirnya
selama ini. Dia hanya bercita-cita ingin kuliah tanpa biaya dari orang tuanya.
Keesokan paginya, dia
tidak bisa berkonsentrasi pada mata kuliahnya. Dia teringat terus pada file artikelnya
yang hilang. Dia hanya bisa menangis dan menangis.
Dia terus berpikir
bagaimana jika tugas itu belum selesai sebelum hari Minggu besok.Bagaimana dia
bisa mengerjakannya?Haruskah dia pinjam terus-menerus dan menunggu temannya
pulang?Dia merasa malu jika terus-menerus pinjam.
Akhirnya
dia putuskan untuk menggunakan sisa waktunya untuk mengerjakan tugasnya lagi
dari awal.Dengan penuh semangat, akhirnya Afi pun bisa menyelesaikan tugasnya
pada hari Sabtu.Tapi pada hari itu juga dia bingung karena daftar isinya belum
selesai. Dia bertanya-tanya pada teman-temannya bagaimana cara membuat daftar
isi.Maklum sejak kuliah dia belum pernah tahu cara membuat daftar isi. Setiap ada
tugas, teman kelompoknyalah yang menyusun makalahnya, sedangkan Afi hanya membantu
mencari materi.
Dia pun berkata dalam
hatinya, “Ya Allah cobaan apa lagi yang Engkau berikan kepada hamba?”.Itulah
kata-kata yang terus muncul di benak Afi.Tapi dia tidak putus asa, terus
mencoba dan mencoba.Dia terus coba-coba
dan jika tidak bisa dia tak malu meminta tolong pada temannya. Akhirnya tugas
artikel itu bisa diselesaikannya tepat waktu. Dia minta tolongdibuatkan daftar
isi dan sekalian mengirimkan tugas itu ke email dosennya. Afi tidak mau melihat
lagi hasil tugasnya, dia tak ingin dibuat stres lagi. Apalagi hari Ahadnya notebookyang
Afi pinjam harus dikembalikan.
***
Satu minggu sebelum UAS,Afikebinggungan.Dia
bingung bagaimana caranya dia belajar.Semua materi ujian yang diberikan dosennya
berbentuk SOFT COPY.Ketika dia mau mencatat,
dosenmenyampaikan materi dengan cepat.Begitu selesai menjelaskan langsung
dihapus.Sehingga dia tidak sempat mencatat.Pinjam catatan teman-teman juga tidak
lengkap.Akhirnya tidak ada pilihan lain, dia terpaksa ngeprint semua materi dari dosennya.
“Bu, perlembarnya
berapa?”, tanyaAfi pada penjaga warnet langganannya.
‘’Lima
ratus kalau tidak berwarna”, jawab Ibu itu.
Afi menunggu printout-nya selama tiga jam.Tiba-tiba
datanglah suami ibu penjaga warnet tersebut. Dan betapa terkejutnya Afi ketika
suami sang ibu berkata bahwa perlembarnya ternyata seribu rupiah.
Afi berkata dalam hati,
“ Kalau tahu satu lembarnya seribu, aku tidak ngeprint”.
Tapi mau bagaimana
lagi, sudah terlanjur nasi jadi bubur.Akhirnya Afi minta kortingan.Afi hanya
bisa ikhlas.
‘’Mungkin ini adalah rezeki Bapak dan Ibu itu“, kata Afi.
***
Pada tanggal 1 Februari akhirnya
nilai UAS keluar.Betapa terkejutnya Afi ketika melihat nilainya.Meski nilainya
jelek, tapi dia bersyukur.Nilainya naik dibandingkan nilai semester lalu.Dia
tidak menyangka tugas artikel yang dia kerjakan sampai harus pinjam notebookpada
Bibinya mendapat nilai 100. Padahal dia mengira akan dapat 30.
“Benar apa janji Allah
kepada ummat-Nya bahwa Dia akan memberikan hasil sesuai dengan usahanya”.
Kata-kata
itulah yang terus mendorong Afi untuk tidak mengeluh dengan apa yang
menimpanya. Dia terus berusaha
untuk meraih cita-citanya, meski fasilitas terbatas. Menurutnya, keterbatasan
fasilitas bukan alasan untuk tidak bisa. Justru dengan keterbatasan itu kita
akan bisa.
***
Bertepatan
pada tanggal 27 Februari.
Tok…tok…tok…
Afi terkejut ketika
seorang petugas pos tiba-tiba mengetuk pintu kamar kost-nya sambil membawa
sebuah bungkusan.Setelah menerima bungkusan yang ternyata dikirim oleh orang
tuanya, dengan tak sabar dia membukanya.Betapa terkejutnya dia. Sebuah kotak
bergambar notebook baru dipegangnya.
“Untuk ananda Afi di
perantauan ilmu.Bersama ini kami kirimkan sebuah laptop untuk ananda. Semoga
dengan ini akan menambah semangat dan kemudahan bagi ananda dalam mereguk ilmu.
Satu minggu yang lalu saat ananda menelpon dan mengabarkan hasil belajar
ananda, kami sangat bangga mendengarnya.Sebagai hadiah, kami sepakat untuk
membelikan ananda laptop.Pergunakan sebaik-baiknya.Salam sayang dari Ayahanda
dan Ibunda”.
Afi berlinang air mata
membaca selembar kertas di dalam bungkusan itu.Perasaannya campur aduk,
terharu, senang.Dia sangat senang sekali, akhirnya keinginanya selama ini
terwujud.Dia punya laptop.
Dia tidak perlu malu-malu lagi pinjam pada temannya. Dia sangat bersyukur
kepada Allah dan berterimakasih kepada orang tuanya, karena tanpa membuat novel
atau cerpen dia bisa punya notebook.
Inilah hasil dari usaha
Afi. Semua yang kita lakukan dengan ikhlas dan sabar akan membuahkan hasil yang
lebih baik, asal kita mau berusaha dan bersyukur. Semua usaha yang kita lakukan
tidak akan sia-sia.Dia terus meyakini itu.
By :
Kenby
Tidak ada komentar:
Posting Komentar