Kamis, 19 Desember 2013

Usaha Yang Dijawab Allah



Usaha Yang Dijawab Allah


07-12-2011

Rabu sore tepatnya pukul 16.30 WIB, seorang mahasiswi pulang dengan pakaian yang basah kuyup. Hujan deras dan petir yang menggelegar menemani langkahnya, peristiwa alam ini biasa dia hadapi di kota berjuluk Kota Hujan alias Kota Bogor. Hal itu dia abaikan, dia terpaksa pulang karena  belum shalat ‘asar.Mata kuliah yang cukup padat hari itu dan kerja kelompok di kampus membuatnya tak dapat menunaikan kewajiban shalat awal waktu.

Dalam perjalanan pulang, dia sangat gembira karena tugasnya yang selama ini menumpuk mulai berkurang. Dia berencana malamini akan  menyelesaikan tugas artikel mata kuliah Fiqh Mawarits yang harus dia kumpulkan sebelum hari Minggu ini.

Setelah sholat, dia mencoba membuka notebook yang dipinjam dari Bibinya.Tiba-tiba,
“Haaa… mana dataku?”, kata Afi.

Dia berkata dalam hatinya, “ Ya Allah cobaan apa lagi yang Engkau berikan kepadaku?. Semoga data-dataku tidak hilang. Ya Robb, tolong...”.

Dia membuka semua folder yang ada di notebooknya itu satu persatu. Dia perhatikan baik-baik setiap judul file yang ada. Sambil terus berdo’a semoga file tugasnya tidak hilang. Setelah tiga kali dia cek tiap file, barulah dia yakin datanya benar-benar hilang. Ialemas dan tidak mempunyai semangat lagi untuk mengerjakan tugasnya.Dengan wajah sangat memelas, diamematikannotebook itu untuk menenangkan hatinya yang sedang gundah.

Dia terus merenungi nasibnya, notebook yang dia pinjam harus dikembalikan  2 hari yang akan datang. Dia khawatir tugasnya tidak bisa diselesaikan sebelum itu.

“Ya Allah, kalau tugasku belum selesai, bagaimana aku mengerjakannya?Laptop ini harus hamba kembalikan keBibi.Tak mungkin hamba terus-terusan merepotkan Bibi dengan meminjamnya”,kata Afi sambil menangis.

Afi berkata lagi, “Seandainya notebook ini punyaku tidak mungkin keadaanku seperti ini, penuh dengan gelisah dan emosi”.

Sebelum berangkat kuliah tadi pagi dia membayangkan tugas artikelnya selesai hari ini.Tapi yang tertinggal sekarang hanyalah kenyataan.Dia terus berusaha untuk bersabar dan tabah, walaupun hatinya penuh dengan perasaan kecewa.Dia terus merenungkan nasibnya. Tiba-tiba dia melihat papan tulis di tembok kamarnya. Dia membaca sebuah tulisan yang sangat mencolok :

“Kapan aku bisa punyalaptop atau notebook?”. Itulah tulisan yang ditulisnya pada bulan Oktober, ditulis dengan huruf kapital untuk memompa semangatnya.

Sejak masuk kuliah Afi ingin punya laptop, tapi orang tuanya di Madura tidak mengizinkan.Entah apa alasan orang tuanya tidak membolehkan.Padahal saat ini, laptop adalah benda penting terutama bagi orang yang sedang kuliah, seperti dirinya. Dia sempat berfikiruntuk mencari pekerjaan yang hasilnya akan dia tabung untuk membeli notebookatau laptop. Tapi keinginan itu mustahil, karena kedua orang tuanya tidak berkenan.Sejak keinginannya tidak tercapai.Afihanya  bisamencoba untuk sabar dan tabah dalam menghadapi semua ini.

“Apakah ini adalah sebuah tanda bahwa Allah sayang  padaku?. Aku yakin dibalik semua ini pasti ada hikmahnya, dan aku yakin dimana ada kesulitan maka disitu ada kemudahan”. Kata-kata inilah yang terus mendorong Afi untuk menerima semua ini.

***

Suatu hari Afi pernah mendapat tugas kelompok. Saat itu dia ajak teman kelompoknya untuk mengerjakan tugasnya di perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan, dia hanya bengongsaja melihat teman-temannya sibuk mengutak-atik tugas di depan laptop mereka.Dia menoleh kiri-kanan, hampir semua temannya membawa laptop.Hanya dirinya saja yang tidak membawa. Timbullah pertanyaan dipikiran Afi yang tidak asing lagi.

“Kapan aku bisa punya laptop atau notebook?”, pertanyaan yang selalu muncul dibenak Afi ketika dia sangat membutuhkan laptop atau notebook.

Setiap ada tugas, ia harus menunggu teman tetangga kamarnya pulang. Apalagi kalau bukan untuk meminjam laptop.Dari situlah dia bisa mengerjakan tugasnya. Meski terhambat menyelesaikan tugasnya, ia tetap semangat. Tak dipedulikannya keterbatasan fasilitas.

***

Artikelnya yang hilang adalah tugas dari dosen Fiqh Mawarits.Artikel itu harus dikumpulkan pada pertemuan ke 13 bertepatan pada hari Minggu ini, tiga hari lagi. Pada saat mendengar pemberian tugasitu, dia hanya bisa tersenyum simpul sambil bertanya-tanya bagaimana cara dia mengerjakannya.Saat itu temannya yang biasa dipinjami laptopnya sedang pulang ke kampung halaman dan kembali dua minggu kemudian.

Dia terus memohon kepada Allah agar dimudahkan segala urusannya yang berhubungan dengan kebaikan. Beberapa hari kemudian Allah mendengar doaAfi.

”Ah…. Aku coba pinjam Bibiku, siapa tahu sedang nganggur?!”.Akhirnya dia mencoba sms bibinya. Bibi dari ibunya yang sudah bermukim di Bogor karena ikut sang suami.

“Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, akhirnya hamba bisa pinjam notebook”, kata Afi dengan nada penuh gembira ketika bibinya membolehkan meminjam notebooknya selama dua minggu.

***

Hari Selasa lalu bertetapan dengan tanggal 25 November, salah satu teman kelompoknya memintanya menulis ayat Al-Qur’an untuk makalah.Kebetulan notebookyang Afi pinjam dari bibinya ada teks Al-Qur’an.

“Afi, tolong kamu ketik ayat Al-qur’annya ya?”, kata salah satu temannya.

‘’Baik Insya Allah”, Afi menyanggupi.

Ketika Afi pulang dari kampus, dia mencoba membuka makalah yang sudah dibuat oleh temannya.Betapa terkejutnya dia, ternyata isi makalah tersebut belum selesai.Bagian daftar isi, penutup, dan perlu di-edit-edit.Dia bingung, karena makalah itu harus selesai keesokan paginya.

“Ya Allah, seandainya saya tidak pinjam notebookBibi, apa yang akan terjadi besok?”, kata Afi dengan nada sedih.Diselesaikannya tugas makalah itu kemudian sambil tak putus bersyukur karena ada kemudahan saat itu.

***
Mengetahui artikel Fiqh Mawarits-nya hilang, Afi hanya bisa merenung, melamun hingga akhirnya dia tertidur dalam lamunannya.

Drrrt…..Drrrt…..Drrrt, terdengarlah suara alarm dari Hpnya. Alarm menunjukkan angka 02.00 malam, jam yang telah dipasang Afi setiap harinya.Afi pun bangun dari tidurnya yang sangat nyenyak untuk melaksanakan sholat malam dan membaca Al-Qur’an.Setelah membaca Al-Qur’an, Afi sahur.Malam itu bertepatan dengan malam Kamis. Afi selalu melakukan puasa sunnahSenin Kamis. Tiba-tiba ditengah dia makan dia teringat akan janji orang tuanya, bahwasanya jika putra-putrinya bisa membuat novel atau cerpen maka akan diberi hadiah notebookatau laptop.

Timbullah keinginannya untuk membuat cerpen agar bisa mendapatkan laptop atau notebook.

Tapi dia bertanya-tanya, “Bagaimana caranya agar aku bisa membuatnya?” .Pertanyaan itu terus menggema di pikirannya.

Jam menunjukkan jam 04.00, tibalah saatnya dia mandi. Di pertengahan mandi, dia memikirkan lagi, “Bagaimana caranya agar aku bisa menulis cerpen atau novel?”.

Afi teringat sebuah coretan yang pernah dia tulis.Dia pun berencana meneruskannya menjadi sebuah cerpen atau mungkin novel.

Dia berharap suatu saat ketika dia bisa menulis cerpen atau novel, bisa dimuat di majalah atau koran. Dia ingin membuktikan pada orangtua, keluarga dan teman-temannya bahwa dia bisa.Meski pun dia hanya lulusan pondok pesantren.Ya, meski pun lulusan pondok pesantren dia sangat bersyukur kepada Allah. Meski pun lulusan pesantren tapi dia bisa diterima di salah satu perguruan tinggi di Bogor. Entah apa kelebihannya hingga dia bisa diterima untuk kuliah dengan modal lulusan pondok pesantren, pikirnya selama ini. Dia hanya bercita-cita ingin kuliah tanpa biaya dari orang tuanya.

Keesokan paginya, dia tidak bisa berkonsentrasi pada mata kuliahnya. Dia teringat terus pada file artikelnya yang hilang. Dia hanya bisa menangis dan menangis.

Dia terus berpikir bagaimana jika tugas itu belum selesai sebelum hari Minggu besok.Bagaimana dia bisa mengerjakannya?Haruskah dia pinjam terus-menerus dan menunggu temannya pulang?Dia merasa malu jika terus-menerus pinjam.

            Akhirnya dia putuskan untuk menggunakan sisa waktunya untuk mengerjakan tugasnya lagi dari awal.Dengan penuh semangat, akhirnya Afi pun bisa menyelesaikan tugasnya pada hari Sabtu.Tapi pada hari itu juga dia bingung karena daftar isinya belum selesai. Dia bertanya-tanya pada teman-temannya bagaimana cara membuat daftar isi.Maklum sejak kuliah dia belum pernah tahu cara membuat daftar isi. Setiap ada tugas, teman kelompoknyalah yang menyusun makalahnya, sedangkan Afi hanya membantu mencari materi.

Dia pun berkata dalam hatinya, “Ya Allah cobaan apa lagi yang Engkau berikan kepada hamba?”.Itulah kata-kata yang terus muncul di benak Afi.Tapi dia tidak putus asa, terus mencoba dan mencoba.Dia terus coba-coba dan jika tidak bisa dia tak malu meminta tolong pada temannya. Akhirnya tugas artikel itu bisa diselesaikannya tepat waktu. Dia minta tolongdibuatkan daftar isi dan sekalian mengirimkan tugas itu ke email dosennya. Afi tidak mau melihat lagi hasil tugasnya, dia tak ingin dibuat stres lagi. Apalagi hari Ahadnya notebookyang Afi pinjam harus dikembalikan.

***

            Satu minggu sebelum UAS,Afikebinggungan.Dia bingung bagaimana caranya dia belajar.Semua materi ujian yang diberikan dosennya berbentuk SOFT COPY.Ketika dia mau mencatat, dosenmenyampaikan materi dengan cepat.Begitu selesai menjelaskan langsung dihapus.Sehingga dia tidak sempat mencatat.Pinjam catatan teman-teman juga tidak lengkap.Akhirnya tidak ada pilihan lain, dia terpaksa ngeprint semua materi dari dosennya.

“Bu, perlembarnya berapa?”, tanyaAfi pada penjaga warnet langganannya.

‘’Lima ratus kalau tidak berwarna”, jawab Ibu itu.
           
Afi menunggu printout-nya selama tiga jam.Tiba-tiba datanglah suami ibu penjaga warnet tersebut. Dan betapa terkejutnya Afi ketika suami sang ibu berkata bahwa perlembarnya ternyata seribu rupiah.
Afi berkata dalam hati, “ Kalau tahu satu lembarnya seribu, aku tidak ngeprint”.
Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur nasi jadi bubur.Akhirnya Afi minta kortingan.Afi hanya bisa ikhlas.
‘’Mungkin ini adalah rezeki Bapak dan Ibu itu“, kata Afi.

***

            Pada tanggal 1 Februari akhirnya nilai UAS keluar.Betapa terkejutnya Afi ketika melihat nilainya.Meski nilainya jelek, tapi dia bersyukur.Nilainya naik dibandingkan nilai semester lalu.Dia tidak menyangka tugas artikel yang dia kerjakan sampai harus pinjam notebookpada Bibinya mendapat nilai 100. Padahal dia mengira akan dapat 30.
           
“Benar apa janji Allah kepada ummat-Nya bahwa Dia akan memberikan hasil sesuai dengan usahanya”.

            Kata-kata itulah yang terus mendorong Afi untuk tidak mengeluh dengan apa yang menimpanya. Dia terus berusaha untuk meraih cita-citanya, meski fasilitas terbatas. Menurutnya, keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk tidak bisa. Justru dengan keterbatasan itu kita akan bisa.

***
           
            Bertepatan pada tanggal 27 Februari.

            Tok…tok…tok…

Afi terkejut ketika seorang petugas pos tiba-tiba mengetuk pintu kamar kost-nya sambil membawa sebuah bungkusan.Setelah menerima bungkusan yang ternyata dikirim oleh orang tuanya, dengan tak sabar dia membukanya.Betapa terkejutnya dia. Sebuah kotak bergambar notebook baru dipegangnya.

“Untuk ananda Afi di perantauan ilmu.Bersama ini kami kirimkan sebuah laptop untuk ananda. Semoga dengan ini akan menambah semangat dan kemudahan bagi ananda dalam mereguk ilmu. Satu minggu yang lalu saat ananda menelpon dan mengabarkan hasil belajar ananda, kami sangat bangga mendengarnya.Sebagai hadiah, kami sepakat untuk membelikan ananda laptop.Pergunakan sebaik-baiknya.Salam sayang dari Ayahanda dan Ibunda”.

Afi berlinang air mata membaca selembar kertas di dalam bungkusan itu.Perasaannya campur aduk, terharu, senang.Dia sangat senang sekali, akhirnya keinginanya selama ini terwujud.Dia punya laptop. Dia tidak perlu malu-malu lagi pinjam pada temannya. Dia sangat bersyukur kepada Allah dan berterimakasih kepada orang tuanya, karena tanpa membuat novel atau cerpen dia bisa punya notebook.

            Inilah hasil dari usaha Afi. Semua yang kita lakukan dengan ikhlas dan sabar akan membuahkan hasil yang lebih baik, asal kita mau berusaha dan bersyukur. Semua usaha yang kita lakukan tidak akan sia-sia.Dia terus meyakini itu.

By :
                                                                                                                                 Kenby




Tidak ada komentar:

Posting Komentar